Gerhana Matahari total pada suatu masa sangat jauh di masa depan dapat berhenti terjadi. Penyebabnya, Bulan perlahan bergerak menjauh dari Bumi sehingga ukuran tampaknya di langit akan terus mengecil.
Perubahan ini tidak menimbulkan dampak yang terasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun, proses tersebut menjadi bagian penting dari evolusi jangka panjang sistem Bumi dan Bulan.
Gerhana Matahari total terjadi ketika piringan Bulan tampak cukup besar untuk menutupi Matahari sepenuhnya dari pandangan di Bumi. Saat jarak orbit Bulan semakin lebar, kondisi itu pada akhirnya tidak lagi terpenuhi.
NASA menjelaskan bahwa Bulan kelak tidak akan cukup besar secara tampak untuk menutup seluruh piringan Matahari. Peristiwa yang tersisa pada kondisi tersebut bukan lagi gerhana Matahari total.
Jarak Bertambah Sedikit Setiap Tahun
Bulan saat ini menjauh dari Bumi sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun. Angka kecil itu menunjukkan bahwa orbit satelit alami Bumi terus melebar secara perlahan.
Rata-rata jarak Bumi dan Bulan sekarang mencapai sekitar 384.400 kilometer. Jarak tersebut setara dengan sekitar 238.855 mil dan cukup lebar untuk menempatkan kurang lebih 30 planet seukuran Bumi di antaranya.
| Aspek | Data | Dampak Jangka Panjang |
|---|---|---|
| Jarak Bulan | Bertambah sekitar 3,8 cm per tahun | Orbit Bulan melebar |
| Rotasi Bumi | Melambat sekitar 2,4 milidetik per abad | Panjang hari bertambah |
| Jarak rata-rata | Sekitar 384.400 km | Interaksi gravitasi tetap berlangsung |
Pasang Surut Memindahkan Energi
Perubahan orbit itu berkaitan dengan tarikan gravitasi Bulan terhadap Bumi, terutama pada massa air laut. Tarikan tersebut membentuk tonjolan pasang surut yang terlibat dalam perpindahan energi antara kedua benda langit.
Bumi berotasi lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan Bulan untuk mengorbit. Perbedaan gerak ini memicu interaksi pasang surut yang secara perlahan menyalurkan energi ke orbit Bulan.
Energi yang diteruskan itu membuat orbit Bulan membesar dari waktu ke waktu. Karena itu, Bulan menjauh bukan akibat gangguan baru atau perubahan mendadak dalam tata surya.
Pasang surut juga menyebabkan rotasi Bumi mengalami perlambatan yang sangat kecil. Akibatnya, durasi satu hari di Bumi bertambah panjang secara bertahap dalam skala waktu yang sangat panjang.
Hari Bertambah Panjang
Rata-rata panjang hari di Bumi meningkat sekitar 2,4 milidetik per abad. Perubahan tersebut terlalu kecil untuk dirasakan langsung, tetapi tetap dapat diukur sebagai bagian dari dinamika sistem Bumi-Bulan.
Hubungan ini menunjukkan bahwa kecepatan putaran Bumi dan posisi Bulan tidak berkembang secara terpisah. Keduanya terus berubah melalui pengaruh gravitasi dan gesekan pasang surut yang berlangsung berkelanjutan.
NASA juga menyebut pasang surut akan lebih besar ketika Bulan berada lebih dekat dibandingkan jaraknya saat ini. Kondisi tersebut memberi gambaran bahwa pasang surut pada masa lalu berkaitan dengan posisi Bulan yang dahulu lebih dekat ke Bumi.
Diukur Lewat Pantulan Laser
Pergerakan Bulan dipantau menggunakan Lunar Laser Ranging atau LLR. Metode ini memanfaatkan reflektor yang ditempatkan di permukaan Bulan sejak misi Apollo untuk memantulkan sinar laser kembali ke Bumi.
Waktu tempuh sinar laser pergi dan pulang memungkinkan jarak Bumi-Bulan dihitung dengan sangat teliti. Pengukuran tersebut memperlihatkan bahwa Bulan memang bertambah jauh sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun.
Data LLR memperkuat penjelasan bahwa perpindahan energi akibat interaksi pasang surut ikut mengubah orbit Bulan. Perubahan yang berlangsung sangat lambat itu akan terus memengaruhi panjang hari dan peluang terjadinya gerhana Matahari total.






