Bukan Lagi Kirim Solar ke Pulau Jauh, Desa Disiapkan Punya PLTS 1 MW

Ketergantungan wilayah terpencil pada kapal pengangkut solar dan BBM menjadi alasan pemerintah mendorong pembangkit listrik tenaga surya. Presiden Prabowo Subianto mengusulkan gambaran ideal agar setiap desa dapat memiliki PLTS berkapasitas 1 MW.

Desa yang menyiapkan lahan disebut berpeluang memperoleh bantuan pembangunan pembangkit. Skema ini diarahkan untuk menghadirkan pasokan listrik yang lebih mandiri di banyak pulau.

Persyaratan Lahan di Tingkat Desa

Kesiapan lahan menjadi unsur yang ditegaskan dalam rencana pembangunan PLTS desa. Pemerintah menjanjikan bantuan pembangunan apabila desa bersedia menyediakan lokasi yang diperlukan.

“Kalau desa itu mau siapkan lahan, kita bisa yakinkan mereka bisa dapat PLTS 1 megawatt,” ujar Prabowo. Kapasitas 1 MW itu setara dengan 1.000 kilowatt atau 1 juta watt.

Indonesia dinilai memiliki keunggulan berupa sinar matahari yang tersedia hampir sepanjang tahun. Kondisi tersebut dipandang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan listrik pada bahan bakar yang harus dikirim dari luar wilayah.

Menurut Prabowo, pengiriman BBM dengan kapal untuk memenuhi kebutuhan listrik pulau-pulau jauh tidak lagi masuk akal. Penggunaan pembangkit surya diproyeksikan dapat menekan kebutuhan pasokan bahan bakar ke daerah terpencil.

Target Nasional Mencapai 100 GW

Gagasan PLTS per desa merupakan bagian dari target pembangkit surya nasional sebesar 100 GW. Kapasitas itu setara dengan 100.000 MW atau 100 miliar watt.

Pemerintah juga menyiapkan pembangunan pembangkit surya sebesar 30 GW pada tahun ini. Program tersebut berjalan seiring rencana penghentian pembangkit listrik tenaga diesel berkapasitas 13 GW.

RencanaKapasitasKonteks
PLTS nasional100 GWTarget pembangunan energi surya
PLTS tahun ini30 GWBagian dari percepatan program
PLTD yang dihentikan13 GWAkan digantikan tenaga surya
PLTS ideal per desa1 MWDesa menyiapkan lahan

Prabowo menyampaikan rencana tersebut dalam pidato penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan pada 14 Agustus 2026. Ia menegaskan pemerintah akan mempercepat pengalihan pembangkit diesel ke pembangkit tenaga surya.

“Pemerintah akan mempercepat penutupan pembangkit listrik tenaga diesel dan menggantinya dengan pembangkit listrik tenaga surya,” kata Prabowo. Pernyataan itu menempatkan pengurangan penggunaan diesel sebagai bagian utama dari program energi surya.

Penghematan Produksi Listrik

Pembangunan PLTS 100 GW juga dikaitkan dengan penghematan biaya produksi listrik nasional. Prabowo menyebut perhitungan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan potensi penghematan mencapai Rp73,9 triliun setiap tahun.

Penghematan itu bersumber dari peluang penurunan biaya pokok produksi listrik Indonesia. Pembangkit surya dalam skala besar juga disebut dapat mengurangi impor BBM.

Pengurangan impor bahan bakar dipandang mendukung kemandirian energi Indonesia. Dengan demikian, target pembangkit surya tidak hanya menyasar tambahan kapasitas listrik, tetapi juga perubahan pola pasokan energi di wilayah yang selama ini mengandalkan diesel.

Pelaksanaan program di tingkat desa akan bergantung pada kesiapan lahan yang disediakan. Sementara itu, percepatan pembangunan PLTS secara nasional menjadi bagian dari transisi menuju listrik berbasis sinar matahari.

Baca Juga