Delegasi dari sepuluh negara datang melakukan studi banding ke RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur. Kawasan permukiman padat ini mengembangkan penataan yang menghubungkan penghijauan, pengelolaan air, pengolahan sampah, dan teknologi digital.
Daya tarik utamanya terletak pada pemanfaatan ruang lingkungan secara berlapis. Saluran air digunakan untuk budidaya ikan, sementara sistem resapan dibangun untuk membantu menekan dampak genangan.
Saluran Air Tidak Hanya untuk Mengalirkan Air
Warga RT 08 memanfaatkan saluran air sebagai tempat budidaya ikan lele dan gurame. Kegiatan tersebut berjalan beriringan dengan pengolahan sampah organik dalam pengelolaan lingkungan sehari-hari.
Menurut Detik iNET, kawasan itu dikembangkan sebagai ekosistem yang saling terhubung. Penataan tidak berhenti pada ruang hijau, melainkan mencakup fungsi air, pangan, keamanan, dan administrasi warga.
Ketua RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Taufiq Supriadi, mengembangkan sistem sumur resapan dalam dan biopori di kawasan tersebut. Ia menerapkan latar belakang keilmuan Teknik Geodesi Geomatika untuk merancang solusi resapan air.
“Jadi ilmu geodesi saya, saya coba diaplikasikan di lingkungan. Ternyata sumur resapan dalam dan biopori itu efektif mengembalikan air ke dalam Bumi,” ujar Taufiq.
Sistem itu disebut memberikan dampak pada kondisi air tanah di sekitar permukiman. Taufiq menyampaikan bahwa ada warga yang merasakan air kamar mandi lebih bening serta pompa air lama tidak lagi berbunyi keras seperti sebelumnya.
Keamanan dan Administrasi dalam Satu Jaringan
Di sisi lain, RT 08 memasang 16 titik CCTV yang terhubung ke ponsel warga. Pengurus juga menggunakan pengeras suara di area permukiman untuk mendukung pemantauan keamanan.
Taufiq menyebut pengeras suara pernah dipakai untuk mengingatkan orang yang dinilai mencurigakan agar menjauh dari lokasi. Kehadiran perangkat tersebut membantu pengurus memantau aktivitas lingkungan secara lebih cepat.
Pengelolaan informasi warga dilakukan melalui aplikasi RTOnline. Sistem itu memuat laporan keuangan, jumlah penduduk, dan proses validasi data bantuan sosial.
“Di sini, warga bisa melihat transparan laporan keuangan kita, warganya ada berapa. Kemudian kita bantu validasi data bansos,” kata Taufiq. Penggunaan aplikasi tersebut menjadi bagian dari penerapan digitalisasi di tingkat RT.
Biaya Infrastruktur dan Usulan CSR
Penataan lingkungan membutuhkan pembiayaan, terutama untuk membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL. Biaya awal pembangunan fasilitas tersebut disebut mencapai puluhan juta rupiah.
Untuk proyek lingkungan berikutnya, pengurus RT mengajukan proposal dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Dana itu ditujukan mendukung rencana Eco EduFarm pada dua area yang berbeda.
| Area | Kebutuhan Dana Bersih | Program yang Didukung |
|---|---|---|
| Area A | Rp2,1 miliar | Eco EduFarm |
| Area E | Rp2,2 miliar | Eco EduFarm |
Pengurus menyebut belum menerima bantuan dana langsung dari pemerintah daerah. Pemerintah telah memberikan pelatihan tenaga kerja budidaya perikanan bagi warga setempat.
Taufiq menempatkan RT sebagai fondasi dalam menyelesaikan persoalan lingkungan perkotaan. Pengembangan biopori, perikanan saluran air, sampah organik, dan pengawasan digital menunjukkan penataan dapat dimulai dari lingkungan warga.






