Danau As Pontes di Galicia, Spanyol, tampak telah jauh berubah dari masa lalunya sebagai tambang lignit. Namun, air di dasar cekungan bekas tambang itu memiliki oksigen sangat rendah dan tingkat keasaman lebih tinggi dibanding lapisan atasnya.
Kontras tersebut memperlihatkan tantangan yang dapat tersembunyi dalam proyek perubahan lubang tambang menjadi danau. Penutupan tambang bukan akhir dari tanggung jawab lingkungan, melainkan awal dari tahap pemulihan dan pengawasan baru.
Dua Kondisi Air dalam Satu Danau
Penelitian yang dikutip inet.detik.com dari Times of India menemukan air Danau As Pontes terbagi dalam dua lapisan kimia. Lapisan bagian atas relatif kaya oksigen dan hanya sedikit asam.
Karakter air di permukaan itu lebih mendekati danau air tawar. Di lapisan yang lebih dalam, kadar oksigen sangat rendah sementara keasaman air lebih tinggi.
Pemisah antara kedua lapisan disebut kemoklin atau chemocline. Zona ini berkaitan dengan perbedaan temperatur, mineral, sumber air, serta densitas atau massa jenis air.
Air dengan massa jenis yang tidak sama dapat sulit bercampur dalam cekungan yang dalam. Karena itu, kondisi air di permukaan tidak selalu menggambarkan keadaan di seluruh bagian danau.
Material batuan yang terbuka selama penambangan juga dapat terus berinteraksi dengan air. Reaksi tersebut berpotensi mengubah komposisi kimia dan menentukan kualitas air dalam jangka panjang.
Risiko Air Asam dan Pelarutan Logam
Pada sejumlah area bekas tambang, mineral yang mengandung sulfur dapat mengalami oksidasi dan menghasilkan air asam. Logam tertentu juga berpotensi larut ke air ketika kondisi geologi dan kimianya mendukung.
Situasi itu dapat memengaruhi kelayakan air bagi ekosistem maupun penggunaan manusia. Itulah sebabnya pemantauan tidak dapat dihentikan hanya karena lubang tambang sudah dipenuhi air.
Penanganan harus memperhitungkan sumber air yang masuk, mutu air, kondisi batuan, serta hubungan cekungan dengan air tanah dan lingkungan sekitarnya. Membiarkan air hujan atau air tanah memenuhi lubang bukan pendekatan yang cukup untuk menjamin keamanan kawasan.
| Aspek Danau As Pontes | Data |
|---|---|
| Luas | Sekitar 865 hektare |
| Panjang | Sekitar 5 kilometer |
| Lebar | Sekitar 2 kilometer |
| Kedalaman maksimum | Lebih dari 200 meter | Volume air | Sekitar 547 miliar liter |
Dari Tambang Lignit Menjadi Kawasan Rekreasi
As Pontes merupakan kawasan pertambangan lignit sebelum aktivitasnya berhenti pada 2007. Setahun kemudian, proses pengisian air dimulai dan baru selesai empat tahun setelahnya.
Danau yang terbentuk menampung sekitar 547 miliar liter air. Dengan luas sekitar 865 hektare dan kedalaman lebih dari 200 meter, danau ini termasuk yang terbesar di Spanyol.
Perubahan fungsi kawasan tidak berhenti di cekungan tambang. Wilayah di sekelilingnya dikembangkan menjadi padang rumput, semak, hutan, dan lahan basah yang dapat digunakan beragam satwa.
Fasilitas rekreasi seperti pantai dan jalur alam kemudian melengkapi kawasan tersebut. Aktivitas kayak dan kano kini dapat dilakukan di danau yang dahulu merupakan lokasi penggalian.
Pelajaran untuk Bekas Tambang di Indonesia
Keberhasilan perubahan fungsi As Pontes tidak berarti semua bekas tambang dapat dijadikan danau dengan cara yang sama. Setiap lokasi memiliki jenis batuan, kandungan mineral, komoditas, curah hujan, air tanah, dan kondisi lingkungan yang berbeda.
Pemetaan risiko menjadi dasar sebelum menentukan langkah rehabilitasi. Pemeriksaan kualitas air, kestabilan lahan, dan dampak terhadap sistem air sekitar perlu dilakukan dalam rentang waktu panjang.
Isu itu mengemuka ketika penertiban tambang ilegal mendapat perhatian pemerintah. Presiden Prabowo Subianto menyoroti sekitar 1.000 tambang ilegal di Bangka dalam Sidang Tahunan MPR RI.
Menghentikan operasi merupakan langkah penting, tetapi warisan berupa cekungan terbuka dan perubahan aliran air tetap harus ditangani. Pengalaman As Pontes menunjukkan fungsi baru bagi lahan rusak hanya dapat tercapai melalui rekayasa lingkungan dan pengawasan ekosistem berkelanjutan.






