Satu buku yang terus dipilih anak dapat menyimpan makna lebih besar daripada sekadar kebiasaan mengulang cerita. Pilihan itu dapat menandakan bahwa anak benar-benar menikmati isi, gambar, dan pengalaman yang dibangun oleh buku tersebut.
Kepala Perpustakaan Nasional, E Aminudin Aziz, menyebut anak tidak harus mengejar banyak judul untuk membentuk pengalaman membaca yang baik. Ia menilai kedalaman interaksi dengan satu buku juga penting dalam menumbuhkan minat membaca.
Orang tua tidak perlu terkejut apabila anak meminta dibacakan cerita yang sama berkali-kali. Anak yang kembali membuka buku favorit belum tentu tidak mengingat jalan ceritanya.
Menurut Aminudin, pengulangan terjadi karena anak ingin menikmati kembali bacaan yang telah menarik perhatiannya. Buku itu dapat memberi pengalaman yang membuat anak belum ingin beralih ke judul lain.
Jumlah Buku Bukan Ukuran Utama
Tidak ada ketentuan mengenai jumlah minimal buku yang harus dibaca anak dalam jangka waktu tertentu. Anak yang hanya membaca satu atau dua buku dalam seminggu tetap dapat membangun hubungan yang bermakna dengan bacaan.
“Ketika dia membacanya bolak-balik, baca lagi, baca lagi, itu justru menjadi syarat buku ini baik. Buku ini menarik bagi anak sehingga dia tidak mau melepaskan buku itu,” kata Aminudin saat diwawancarai di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat.
Ia menegaskan bahwa perhatian tidak seharusnya hanya tertuju pada banyaknya buku yang ditamatkan. “Jadi bukan banyaknya buku yang dibaca, tetapi seberapa intensif anak berinteraksi dengan buku itu,” ujarnya.
Pandangan ini membuat orang tua tidak perlu terburu-buru mengganti bacaan anak demi variasi semata. Anak dapat diberi waktu menikmati buku kesukaannya sampai merasa puas atau mulai bosan.
Ragam Buku Tetap Perlu Dihadirkan
Kebebasan menikmati satu judul tidak berarti anak harus dibatasi pada pilihan itu saja. Orang tua dan pendamping tetap dapat menyediakan kesempatan agar anak mengenal buku dari berbagai genre.
Perpustakaan Nasional mendorong ketersediaan bacaan yang beragam agar anak dapat memilih sesuai ketertarikannya. Ruang memilih membantu anak menemukan buku yang terasa dekat dengan minat pribadinya.
Daya tarik sebuah buku bagi anak dapat muncul bahkan sebelum cerita dibaca. Sampul bergambar dan bentuk jilid dapat menjadi alasan awal anak mengambil sebuah buku dari rak.
Hal ini menjelaskan mengapa buku yang dipandang baik oleh orang dewasa belum tentu langsung disukai anak. Orang tua disarankan tidak memaksakan tokoh atau genre tertentu hanya karena dianggap paling sesuai menurut orang dewasa.
Membangun Pengalaman Membaca yang Menyenangkan
Gambaran singkat tentang isi buku dapat diberikan sebelum anak meminjam buku di perpustakaan atau memilihnya di toko. Informasi sederhana itu dapat membantu anak menentukan pilihan tanpa mengurangi kebebasannya.
Bagi anak yang belum dapat membaca, kegiatan mendongeng dapat menjadi cara awal untuk mengenalkan Buku Anak. Orang tua dapat mengajak mereka membayangkan tokoh dan peristiwa dalam cerita agar interaksi dengan buku terasa lebih hidup.
Kedekatan dengan buku sejak usia dini berkaitan dengan perkembangan kemampuan literasi. Proses tersebut dapat memengaruhi perkembangan fisik dan mental individu.
Saat anak diberi ruang memilih dan menikmati bacaan, Minat Baca Anak dapat tumbuh tanpa tekanan target. Membaca ulang cerita favorit menjadi salah satu cara anak mengenal buku sebagai tempat bereksplorasi dan berimajinasi.






