Dua informasi mengenai Susannah dalam pidato Presiden Prabowo Subianto mendapat klarifikasi berbeda setelah disampaikan di hadapan publik. Pemerintah membetulkan nominal upah yang terucap, sedangkan keluarga membantah profesi Susannah sebagai pengupas bawang.
Perbedaan itu berkaitan dengan data personal dan ekonomi yang disampaikan dalam pidato kenegaraan. Keluarga Susannah menyatakan pekerjaan sehari-hari perempuan asal Kabupaten Bogor itu adalah memborong jahit kain lap majun.
Yuliana, kakak kandung Susannah, menyebut rata-rata upah dari pekerjaan tersebut sekitar Rp14 ribu per hari. Susannah juga bekerja di dapur program Makan Bergizi Gratis.
“Itu tidak benar. Tidak, sangat tidak benar,” kata Yuliana mengenai penyebutan Susannah sebagai pengupas bawang. Ia mengatakan keluarga serta tetangga merasa bingung karena kegiatan Susannah sebelumnya telah diliput sebelum undangan acara diberikan.
Angka Rp700 ribu merupakan kekeliruan pengucapan
Dalam pidato, Presiden sempat menyebut upah Rp700 ribu per kilogram. Kepala Badan Komunikasi Kepresidenan, Qodari, kemudian menjelaskan naskah pidato sebenarnya mencantumkan Rp700 per kilogram.
Menurut Qodari, perbedaan antara teks dan pengucapan terjadi dalam penyampaian pidato berdurasi panjang. Ia menyatakan kesalahan satu atau dua kata dapat terjadi dalam kondisi tersebut.
“Kalau membaca dengan menganalisa dengan niat baik, saya kira pasti enggak mungkinlah Rp700.000,” ujar Qodari. Ia menekankan bahwa nominal Rp700 per kilogram lebih masuk akal jika dilihat dari harga komoditas di pasar.
Badan Komunikasi Kepresidenan meminta maaf atas kekeliruan pengucapan nominal itu. Menteri Sekretaris Negara juga menyatakan data yang digunakan dalam pidato akan diperiksa.
Susannah dan Margarelitha dalam paparan bantuan sosial
Nama Susannah muncul dalam pidato kenegaraan pada Jumat, 14 Agustus 2026, di Kompleks Parlemen, Jakarta. Pidato itu disampaikan dalam Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD RI.
Presiden memaparkan 121 kebijakan transformatif selama 21 bulan kepemimpinannya. Susannah disebut sebagai penerima Program Keluarga Harapan dan program sembako yang dikaitkan dengan kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
| Penerima bantuan | Daerah | Informasi program |
|---|---|---|
| Susannah | Kabupaten Bogor | Program Keluarga Harapan dan program sembako |
| Margarelitha Rohi | Kupang, Nusa Tenggara Timur | Bantuan sosial ATENSI |
Pidato yang sama juga menampilkan kisah Margarelitha Rohi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia disebut hidup dalam kesulitan sejak kecil dan tidak pernah mengenyam pendidikan.
Pada usia 38 tahun, Margarelitha berdagang sambil merawat tantenya yang berusia 80 tahun. Bantuan sosial ATENSI disebut menjadi penopang bagi keluarganya.
Gambaran kondisi keluarga Susannah
Yuliana menggambarkan adiknya sebagai pribadi mandiri yang tekun bekerja. Ia juga menyebut Susannah sopan, rajin beribadah, dan memberi perhatian pada pendidikan anak-anaknya.
Suami Susannah bekerja sebagai kuli bangunan. Keduanya bersama-sama menopang kebutuhan rumah tangga melalui pekerjaan yang dijalani masing-masing.
Peristiwa ini menunjukkan pentingnya ketelitian saat menyampaikan nominal maupun latar belakang penerima program dalam pidato kenegaraan. Pidato tersebut disampaikan sebagai bagian dari laporan kinerja lembaga negara dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.






