Aritmia Tidak Punya Satu Penyebab, Menghindari Satu Pemicu Belum Cukup

Menghindari satu kebiasaan yang dianggap berisiko tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap aritmia. Gangguan irama jantung ini terbentuk dari kombinasi faktor, mulai dari kondisi tubuh dan riwayat kesehatan hingga usia serta genetik.

Karena tidak memiliki satu penyebab tunggal, pencegahan aritmia tidak dapat dipastikan berhasil 100 persen. Hal ini juga membuat penilaian risiko tidak cukup dilakukan dengan melihat apakah seseorang merokok atau memiliki penyakit tertentu.

Kombinasi Risiko Berbeda pada Tiap Orang

Spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular Brawijaya Hospital, dr Simon Salim, SpPD-KKV, menjelaskan bahwa setiap orang dapat memiliki porsi pengaruh faktor yang berbeda. Seseorang dapat sekaligus memiliki kerentanan genetik, kondisi kesehatan tertentu, dan pengaruh gaya hidup.

Dalam pembahasan penyakit, terdapat istilah necessary cause untuk penyebab yang harus ada sebelum suatu penyakit terjadi. Menurut penjelasan tersebut, pola semacam itu tidak berlaku secara sederhana pada aritmia.

“Jadi kita susah bilang bahwa dia bisa dicegah, 100% dicegah,” kata dr Simon dalam program detikSore. Pernyataan itu menegaskan bahwa upaya menjaga kesehatan tetap penting, tetapi tidak dapat diposisikan sebagai jaminan mutlak.

Faktor yang Disebut Berkontribusi

KelompokContoh FaktorPotensi Kaitan
Gaya hidupMerokok, kurang tidurDapat berkontribusi terhadap aritmia
PengobatanObat-obatan tertentuDapat menjadi faktor yang terlibat
Riwayat kesehatanDiabetes, penyakit jantung, operasi jantungDapat memudahkan aritmia terjadi
Faktor bawaanGenetik dan usiaDapat meningkatkan kerentanan

Diabetes, penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya, dan riwayat operasi jantung dapat membentuk “substrat” khusus untuk mengalami aritmia. Kondisi tersebut tidak harus muncul sendiri, melainkan dapat saling memperkuat dengan faktor lain pada individu tertentu.

Faktor genetik juga disebut memiliki kaitan besar dengan sebagian besar kasus henti jantung mendadak. Aritmia perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan kondisi berbahaya tersebut.

Orang Sehat Tetap Memiliki Risiko Tertentu

Usia merupakan faktor yang tidak dapat diubah dan risikonya dapat meningkat pada jenis aritmia tertentu. Secara data, aritmia lebih banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih tua.

Dr Simon menyampaikan bahwa peningkatan risiko itu dapat terjadi meski seseorang tidak memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, atau kebiasaan merokok. Pertambahan usia saja dapat meningkatkan kemungkinan munculnya jenis aritmia tertentu.

Gaya hidup sehat tetap memiliki nilai penting karena beberapa kebiasaan dapat berkontribusi terhadap risiko. Namun, tidak adanya faktor gaya hidup tertentu tidak serta-merta menghilangkan pengaruh usia maupun kemungkinan kerentanan genetik.

Kecurigaan pada Usia Muda Juga Perlu Ditangani

Usia muda bukan alasan untuk menyepelekan kecurigaan terhadap gangguan irama jantung. dr Simon berharap orang muda yang menduga dirinya mengalami aritmia bersedia mencari pertolongan medis.

health.detik.com melaporkan bahwa kontribusi terbesar terhadap aritmia tidak dapat ditetapkan hanya dari satu faktor. Pemahaman atas gabungan risiko tersebut diperlukan agar kemungkinan gangguan irama jantung mendapat perhatian yang tepat.

Baca Juga