Aksi ambil untung setelah reli kuat menekan pasar logam mulia pada perdagangan Jumat (14/8/2026). Emas spot turun 1,2% menjadi US$ 4.354,58 per ons troi, sedangkan paladium mengalami koreksi paling dalam sebesar 3,9%.
Tekanan jual terjadi setelah emas mendekati US$ 4.500 per ons troi, sebuah area yang belum mampu dilewati secara konsisten. Sebelum melemah, harga emas sempat menyentuh US$ 4.449,39, level tertinggi sejak 5 Juni 2026.
Koreksi Meluas di Pasar Logam Mulia
Pelemahan harga tidak terbatas pada emas fisik, tetapi juga menjalar ke emas berjangka AS dan logam mulia lainnya. Pergerakan seragam ini mencerminkan meluasnya sentimen jual setelah kenaikan harga dalam beberapa hari sebelumnya.
| Instrumen | Harga per Ons Troi | Perubahan |
|---|---|---|
| Emas spot | US$ 4.354,58 | Turun 1,2% |
| Emas berjangka AS | US$ 4.420,40 | Turun 1,1% |
| Perak spot | US$ 64,51 | Turun 1,2% |
| Platinum | US$ 1.715,54 | Turun 2,4% |
| Paladium | US$ 1.316,28 | Turun 3,9% |
Platinum turun 2,4% menjadi US$ 1.715,54 per ons troi. Sementara itu, perak spot melemah 1,2% ke US$ 64,51 per ons troi.
Reli Cepat Mendorong Realisasi Keuntungan
Analis independen Tai Wong menyoroti kenaikan emas sekitar 9% dalam sepekan sebelum koreksi berlangsung. Ia menyebut pembelian dari investor China dan investor ritel ikut mengangkat harga dalam periode tersebut.
Menurut Wong, aksi ambil untung mulai terlihat ketika emas bergerak di sekitar rata-rata pergerakan 100 hari. Kondisi ini muncul setelah harga mengalami kenaikan yang cukup cepat.
Bob Haberkorn, analis strategi pasar senior StoneX, menilai US$ 4.500 merupakan hambatan teknis yang besar. “US$ 4.500 merupakan titik resistensi besar bagi emas. Kami telah menyentuhnya dua kali dan emas kemudian jatuh dari level tersebut,” kata Haberkorn.
Ia mengatakan para pedagang cenderung gelisah ketika emas kembali mendekati level itu. Karena itu, tekanan jual meningkat saat harga gagal melampaui batas tersebut.
Inflasi AS Membentuk Ekspektasi Pasar
Pelaku pasar juga mencermati data inflasi Amerika Serikat untuk memperkirakan arah kebijakan The Fed. Indeks harga produsen atau PPI AS tercatat tidak berubah pada Juli 2026 karena penurunan harga barang mengimbangi kenaikan biaya jasa.
Data PPI hadir sehari setelah laporan indeks harga konsumen atau CPI. Inflasi AS tumbuh 3,4% dalam 12 bulan hingga Juli 2026, melambat dibandingkan 3,5% pada Juni dan sesuai perkiraan ekonom.
Beritasatu melaporkan data inflasi tersebut dengan mengutip Reuters. Pelambatan selama dua bulan berturut-turut dinilai mengurangi urgensi The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan depan.
Meski begitu, pasar masih mengamati kemungkinan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda setelah data PPI dirilis. CME FedWatch Tool mencatat peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 35%, turun dari 40%.
Harga emas selanjutnya akan dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga, arus pembelian investor, dan kemampuan menembus US$ 4.500. Selama batas itu belum dilewati, pergerakan harga berpotensi tetap bergejolak setelah reli tajam.






