500 Lele di Selokan, Cara Warga Malaka Jaya Menopang Pangan dan UMKM

Sekitar 500 ekor lele dipelihara warga di selokan sepanjang 42 meter di RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur. Budidaya yang juga mencakup sekitar 15 ekor gurame itu menjadi sumber pangan bagi warga sekaligus bahan baku usaha mikro.

Hasilnya tidak hanya diarahkan untuk penjualan. Warga dapat mengajukan ikan bagi ibu hamil, lansia, dan balita, sementara sebagian panen dipasarkan untuk menambah pemasukan kas RT.

Lele Diolah Menjadi Produk UMKM

Kegiatan budidaya di lingkungan tersebut berkembang menjadi sejumlah produk olahan. Kios UMKM warga menjual lele marinasi beku, abon lele, nugget lele, dan otak-otak lele.

Lele marinasi dipasarkan dengan harga Rp 25.000. Peternakan ayam di lingkungan itu juga menyumbang telur untuk produksi aneka kue kering yang dijual mulai Rp 5.000.

Telur ayam dari peternakan warga dihargai Rp 3.000 per butir. Pemasukan dari produk dan telur tersebut dicatat sebagai kas RT untuk mendukung pembangunan kawasan.

Arshad, warga RT 08, menyebut kegiatan UMKM itu terus mendapat permintaan. “Alhamdulillah, makin membuka lapangan pekerjaan,” katanya.

Komponen ProgramJumlahPemanfaatan
Lele di selokanSekitar 500 ekorKonsumsi dan produk olahan
Gurame di selokanSekitar 15 ekorKonsumsi dan budidaya
Ikan di akuarium gangSekitar 20 ekorBudidaya lingkungan
Ayam ternak15 di belakang, 3 di atasTelur untuk warga dan usaha

Budidaya di Ruang Permukiman Padat

Selain selokan, warga menempatkan akuarium kaca berisi sekitar 20 ekor ikan di area gang. Pemeliharaan ikan dilakukan secara bergiliran oleh warga dengan jadwal pemberian pakan dua kali sehari.

Pakan yang digunakan terdiri atas pelet, daun pepaya dari tanaman warga, serta maggot. Maggot tersebut diperoleh dari proses pengolahan sampah organik di lingkungan RT.

Menurut Taufiq Supriadi kepada inet.detik.com, kegiatan itu merupakan bagian dari gerakan kampung ramah lingkungan. Budidaya ikan dirangkai dengan pengelolaan sampah, peternakan ayam, serta pengembangan usaha warga.

Kompos untuk Alas Kandang Ayam

Sampah daun dicacah dan dicampurkan untuk kebutuhan kompos yang digunakan pada alas kandang ayam. Kandang dibuat terbuka dengan lorong udara agar sirkulasi tetap berjalan baik.

Taufiq menyebut pengaturan alas kandang yang memakai campuran hasil komposting menjadi kunci agar kandang tidak berbau. Telur ayam dapat diambil warga tanpa pembayaran, terutama untuk kelompok yang membutuhkan.

Program pangan dan ekonomi tersebut dikembangkan di kawasan yang padat bangunan dan memiliki ruang terbuka terbatas. Taufiq membawa agenda optimalisasi pengelolaan sampah, tanggap banjir dan lingkungan, digitalisasi RT, serta kemandirian pangan dan ekonomi ketika mencalonkan diri sebagai ketua RT.

Gotong Royong dan Dukungan Perusahaan

Kegiatan di RT 08 Malaka Jaya telah berjalan sekitar dua tahun sembilan bulan. Pengembangannya mengandalkan gotong royong warga, hasil usaha lingkungan, dan dukungan dana corporate social responsibility dari perusahaan yang mendukung RT percontohan tersebut.

Perwakilan dari sejumlah negara disebut pernah berkunjung untuk mempelajari program lingkungan itu. Negara yang disebut antara lain Amerika Serikat, Belanda, Jepang, China, Singapura, dan Australia.

Taufiq memandang perubahan dapat dimulai dari lingkup terkecil melalui keterlibatan warga. “Kalau RT kuat, saya yakin negara akan hebat,” ujar Taufiq saat memperkenalkan program tersebut.

Penggunaan selokan sebagai tempat budidaya menunjukkan upaya warga memanfaatkan ruang yang tersedia. Kegiatan itu kemudian menghubungkan kebutuhan pangan, pengolahan limbah organik, dan peluang kerja melalui UMKM lingkungan.

Baca Juga