Pengujian terhadap 60 pelari menunjukkan 73% peserta lebih menyukai pengembalian energi dari adidas Hyperboost Edge. Sebanyak 77% peserta dalam studi yang sama juga merasakan bantalan sepatu ini lebih lembut dibandingkan sepatu yang biasa mereka gunakan.
Hasil tersebut menjadi dasar adidas dalam menonjolkan Hyperboost Pro sebagai teknologi bantalan baru. Menariknya, sepatu ini tidak memakai pelat, meski tetap dirancang untuk menghadirkan langkah yang responsif.
Riset konsumen dan pengujian laboratorium untuk pengembangan Hyperboost Pro dilakukan bersama German Sport University Cologne. Mayoritas peserta menilai pengalaman lari secara keseluruhan lebih baik saat menggunakan Hyperboost Edge.
| Penilaian Peserta | Hasil | Keterangan |
|---|---|---|
| Pengembalian energi | 73% lebih menyukai | Langkah dinilai lebih responsif |
| Kelembutan bantalan | 77% merasakan lebih baik | Memberikan rasa empuk saat berlari |
| Kenyamanan | Lebih dari separuh memilih | Menjadi pertimbangan utama peserta |
Mengejar respons tanpa struktur pelat
Hyperboost Edge mengandalkan karakter busa Hyperboost Pro untuk mengikuti pergerakan alami kaki. Strategi ini berbeda dari sepatu berpelat yang menggunakan struktur lebih kaku untuk mendukung dorongan langkah.
Dengan bobot 255 gram, Hyperboost Edge menjadi sepatu lari ringan pertama adidas yang hadir dalam format non-plated. Model ini ditujukan bagi pelari yang membutuhkan bantalan tebal, tetapi tidak menginginkan rasa sepatu terlalu kaku.
Bagian tumit memiliki tinggi sol 45 mm dan selisih tinggi 6 mm menuju bagian depan kaki. Konfigurasi tersebut dirancang untuk membantu pendaratan yang lebih lembut serta memberikan sensasi dorongan ketika berlari.
Hyperboost Pro mengadopsi material midsole dari sepatu balap kelas elite adidas. Untuk Hyperboost Edge, material itu disesuaikan agar lebih fleksibel menghadapi kebutuhan lari harian hingga latihan jarak jauh.
Peran PRIMEWEAVE dan LIGHTTRAXION
Teknologi Hyperboost Pro tidak bekerja sendiri karena adidas turut memasang PRIMEWEAVE dan LIGHTTRAXION. Ketiganya menjadi fondasi untuk bantalan, dukungan kaki, dan traksi dalam satu sepatu.
PRIMEWEAVE berada pada upper dengan karakter lembut dan ringan. Material ini dirancang agar kaki tetap nyaman sekaligus mendapatkan dukungan yang sesuai selama bergerak.
Area tumit memakai heel pods terintegrasi untuk memberi bantalan tambahan dan membantu kestabilan kaki. Sementara itu, LIGHTTRAXION melapisi bagian outsole dari tumit hingga ujung kaki.
| Teknologi | Lokasi | Tujuan Penggunaan |
|---|---|---|
| Hyperboost Pro | Midsole | Bantalan dan pengembalian energi |
| PRIMEWEAVE | Upper | Rasa lembut, ringan, serta dukungan kaki |
| LIGHTTRAXION | Outsole | Traksi ringan dari tumit sampai ujung kaki |
LIGHTTRAXION terinspirasi dari teknologi outsole sepatu balap adidas dan dirancang menjaga daya cengkeram pada berbagai kondisi permukaan. Struktur outsole yang lebih tipis juga membawa karakter performa Adizero tanpa menambah bobot secara besar.
Patrick Nava, GM adidas Running, mengatakan perusahaan ingin menyediakan pilihan yang transformatif untuk pelari. “Hyperboost Edge adalah wujud nyata dari Power of Three-bantalan, energi, dan bobot yang ringan berpadu secara sempurna dalam satu sepatu,” ujarnya dalam keterangan adidas.
Tampilan industrial dan ketersediaan
Secara visual, Hyperboost Edge memakai midsole tebal dan mengembang dengan inspirasi bentuk industrial. Busa Hyperboost Pro yang berada tepat di bawah kaki menjadi titik fokus desainnya.
Ikon Three Stripes ditempatkan bertumpuk di bagian midsole, sebuah penerapan pertama pada sepatu lari adidas. Upper tampil minimalis dan futuristis melalui lubang tali tersembunyi serta detail ringan yang direkatkan langsung.
adidas memasarkan Hyperboost Edge seharga US$200 dan pertama kali menghadirkannya dalam warna merah. Produk ini tersedia melalui outlet resmi adidas serta adidas.com, dengan pilihan warna lain yang akan menyusul pada peluncuran berikutnya.






