Yuzarsif dijemput menggunakan kereta perang setelah kebenaran tentang dirinya terungkap di hadapan Firaun Amenhotep IV. Penghormatan tinggi itu datang setelah Zulaikha dan pihak lain mengakui bahwa Yuzarsif tidak bersalah.
Meski statusnya berubah dari tahanan menjadi sosok yang diundang ke istana, Yuzarsif tetap menunjukkan kerendahan hati. Ia menolak dibawa dengan tandu dan memilih kereta perang agar tidak menjadi beban bagi orang lain.
Yuzarsif menyampaikan alasan pilihannya dengan kalimat, “Mereka yang berdiri di atas punggung seseorang ditakdirkan untuk jatuh.” Sikap tersebut menjadi bagian dari keteguhannya setelah bertahun-tahun mendekam di Penjara Zafira.
Tidak membungkuk kepada Firaun
Di istana, Firaun dan permaisuri menyambut Yuzarsif secara hangat. Amenhotep IV mengenang masa kecil ketika Yuzarsif pernah mengalungkan kalung pemberian Amenhotep III ke lehernya.
Yuzarsif tetap tidak membungkuk di hadapan Firaun karena ia menyatakan hanya bersujud kepada satu Tuhan. Sikap itu justru membuat Amenhotep IV semakin menghormati keteguhan prinsipnya.
Firaun juga mengagumi ketampanan serta kebijaksanaan Yuzarsif. Ia kemudian menyiapkan pesta besar yang akan dihadiri para bangsawan dan imam kuil.
Ujian menafsirkan mimpi di istana
Pesta tersebut dirancang untuk menguji kemampuan Yuzarsif dalam menafsirkan mimpi setelah para penafsir Mesir tidak berhasil memberikan jawaban. Amenhotep IV berharap kemampuan Yuzarsif dapat mengguncang pengaruh imam kuil Amon yang selama ini dominan.
Yuzarsif menegaskan bahwa kemampuan menafsirkan mimpi bukan berasal dari mantra maupun alat gaib. Ia menyatakan pengetahuan itu datang melalui wahyu dari Tuhannya.
| Peristiwa | Pihak terkait | Makna bagi Yuzarsif |
|---|---|---|
| Pembebasan dari penjara | Amenhotep IV | Terjadi setelah perkara lama diperiksa kembali |
| Pengakuan kesalahan | Zulaikha dan Potifar | Memulihkan nama Yuzarsif dari tuduhan |
| Penjemputan kereta perang | Firaun | Menunjukkan penghormatan dari istana |
| Ujian tafsir mimpi | Bangsawan dan imam kuil | Menguji pengetahuan yang diyakini berasal dari wahyu |
Kebenaran dibuka sebelum pembebasan
Penghormatan dari Firaun itu baru diterima Yuzarsif setelah ia menolak dibebaskan tanpa pemulihan nama baik. Saat Komandan Horemhop dan Inarus datang menjemputnya dari Penjara Zafira, ia meminta agar kasus lama diselidiki kembali.
Yuzarsif menilai seorang yang dicap pengkhianat tidak memiliki tempat di luar penjara maupun di istana. Karena itu, ia meminta penyelidikan atas peristiwa ketika para wanita bangsawan mengiris tangan mereka saat melihatnya.
Firaun lalu memanggil Zulaikha, istri Potifar, serta para wanita yang hadir dalam pesta tersebut. Mereka mengakui Yuzarsif tidak bersalah dan menggambarkannya sebagai pribadi yang sopan, suci, serta menyerupai malaikat.
Zulaikha mengakui bahwa ia mencintai Yuzarsif dan berulang kali mencoba menggoda dirinya, tetapi Yuzarsif tetap menjaga kesucian. Potifar juga menyampaikan penyesalan karena pernah memenjarakan Yuzarsif demi meredam fitnah masyarakat.
Pesan setelah satu dekade di penjara
Selama 10 tahun di Penjara Zafira, Yuzarsif menjadi pembimbing dan penopang moral bagi tahanan lain. Para tahanan merasa sedih ketika ia harus meninggalkan penjara menuju istana.
Dalam perpisahannya, Yuzarsif menyatakan bahwa penjara dapat menjadi tempat pembinaan bagi sahabat dan sarana membersihkan jiwa. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak akan merasa sendiri selama memiliki Allah di sisinya.
Yuzarsif juga menegaskan bahwa dirinya bukan manusia sempurna karena jiwa selalu memiliki potensi menuju keburukan, kecuali orang yang dirahmati Tuhan. Pernyataan itu memperlihatkan sikapnya yang tidak berubah meski kini memperoleh kedudukan terhormat di lingkungan Firaun.






