Peluang yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun turun menuju 6,9 persen pada 2027 terbuka apabila siklus penurunan suku bunga global berjalan dan rupiah lebih stabil. Kebijakan Bank Indonesia juga akan menjadi penentu penting bagi kepercayaan investor terhadap surat utang rupiah.
Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kondisi inflasi domestik memberi ruang bagi penurunan imbal hasil. Namun, pasar obligasi tidak hanya menghitung perkembangan harga di dalam negeri ketika menentukan premi risiko.
Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen, dengan inflasi inti sebesar 2,76 persen. Angka tersebut membuat imbal hasil riil SBN masih relatif tinggi.
“Angka 6,9% masih mungkin tercapai jika siklus penurunan suku bunga global benar-benar berjalan dan rupiah lebih stabil,” kata Yusuf. Tanpa kedua kondisi itu, yield dinilai berpotensi bertahan lebih dekat ke level 7 persen.
Pasar Masih Berada di Atas Asumsi Pemerintah
Pemerintah menetapkan asumsi yield SBN 10 tahun sebesar 6,9 persen dalam RAPBN 2027 pada 17 Agustus 2026. Di pasar, yield SUN tenor yang sama berada di sekitar 7,2 persen.
Perbedaan antara kedua angka itu mencapai sekitar 25 hingga 30 basis poin. Core Indonesia menilai selisih tersebut masih wajar bila dibandingkan dengan pergerakan yield secara historis.
Asumsi dalam RAPBN merupakan rata-rata yield tahunan yang digunakan untuk menghitung biaya bunga utang pemerintah. Karena itu, angka tersebut bukan sasaran level yield yang harus terlihat pada akhir 2027.
| Komponen | Nilai | Penjelasan |
|---|---|---|
| Asumsi RAPBN 2027 | 6,9 persen | Rata-rata yield SBN 10 tahun |
| Yield pasar saat ini | 7,2 persen | SUN tenor 10 tahun |
| Proyeksi pergerakan 2027 | 6,7–7,4 persen | Perkiraan Core Indonesia |
| Rata-rata proyeksi 2027 | 7,0–7,1 persen | Perkiraan tahunan |
Core Indonesia memproyeksikan yield SUN 10 tahun bergerak dalam rentang 6,7 persen hingga 7,4 persen sepanjang 2027. Rata-rata yield diperkirakan berada pada kisaran 7,0 persen sampai 7,1 persen.
Tekanan Kurs Tidak Boleh Diabaikan
RAPBN 2027 menggunakan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS. Posisi tersebut masih lebih kuat dibandingkan pergerakan pasar yang berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Yusuf menilai pelemahan kurs dapat mempersempit ruang penurunan yield. Investor akan memperhitungkan risiko nilai tukar sebagai bagian dari premi yang melekat pada obligasi pemerintah.
“Ruang penurunan yield sebenarnya ada, tetapi sangat bergantung pada arah suku bunga global dan kebijakan BI,” kata Yusuf Rendy Manilet. Kebijakan BI dinilai turut menentukan bagaimana pasar memandang instrumen utang berdenominasi rupiah.
Pasokan Utang dan Respons Investor
Target defisit APBN 2027 sebesar 2,40 persen terhadap produk domestik bruto dapat mengurangi kekhawatiran terhadap pasokan SBN. Kebutuhan penerbitan utang akan terlihat lebih terukur bila target tersebut dapat dipertahankan.
Meski demikian, target peningkatan penerimaan pajak sebesar 12,1 persen serta kebutuhan refinancing surat utang jatuh tempo tetap menjadi risiko fiskal. Faktor-faktor itu dapat memengaruhi kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Investor masih menunjukkan kehati-hatian terhadap obligasi tenor panjang setelah penyampaian RAPBN 2027. Ekspektasi penurunan suku bunga cenderung lebih cepat tercermin pada instrumen berjangka pendek.
Perhatian berikutnya tertuju pada lelang SUN 18 Agustus 2026, sebelum keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 19 Agustus 2026. Penawaran dalam lelang diperkirakan mencapai Rp60 triliun hingga Rp75 triliun, sementara yield obligasi acuan 10 tahun diproyeksikan dimenangkan pada kisaran 7,25 persen hingga 7,35 persen.
Yusuf menilai tenor 5 hingga 10 tahun menawarkan carry yang tetap menarik dengan risiko durasi lebih terkendali. Pilihan tenor itu mencerminkan kehati-hatian pasar yang masih menunggu arah suku bunga global dan stabilitas rupiah.






