Di Balik Kenaikan Utang Indonesia, Kesehatan Menyerap Porsi Terbesar

Jasa kesehatan menjadi tujuan terbesar pemanfaatan utang luar negeri pemerintah dengan porsi 22,0% pada triwulan II 2026. Alokasi itu berada di tengah kenaikan total utang luar negeri Indonesia menjadi US$453,4 miliar.

Pembiayaan eksternal pemerintah juga mengalir ke administrasi pemerintah dan pertahanan sebesar 20,6%, serta pendidikan 16,2%. Konstruksi memperoleh porsi 11,5%, sedangkan transportasi dan pergudangan sebesar 8,5%.

Pembiayaan Publik Menjadi Penggerak

Total utang luar negeri Indonesia tumbuh 4,4% secara tahunan pada triwulan II 2026. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh peningkatan pembiayaan sektor publik yang mencakup pemerintah dan bank sentral.

Utang luar negeri pemerintah tercatat US$216,3 miliar. Pertumbuhannya sebesar 2,9% secara tahunan, melambat dari 3,8% pada triwulan sebelumnya.

Aliran modal asing ke Surat Berharga Negara meningkat meski pertumbuhan utang pemerintah melandai. Perkembangan itu menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap instrumen pembiayaan pemerintah.

Sektor PemanfaatanPorsi Pembiayaan Pemerintah
Jasa Kesehatan22,0%
Administrasi Pemerintah dan Pertahanan20,6%
Pendidikan16,2%
Konstruksi11,5%
Transportasi dan Pergudangan8,5%

Lima sektor tersebut menjadi kelompok dengan alokasi terbesar dari pembiayaan luar negeri pemerintah. Pemanfaatannya diarahkan untuk mendukung layanan dasar dan sektor-sektor produktif.

Utang Swasta Masih Menurun

Berbeda dengan sektor publik, utang luar negeri swasta masih mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan. Posisi utang swasta berada di US$194,6 miliar pada triwulan II 2026.

Tekanan di sektor swasta mulai berkurang karena kontraksi sebelumnya mencapai 1,3% pada triwulan I 2026. Penurunan utang luar negeri lembaga keuangan sebesar 3,4% secara tahunan menjadi faktor yang menahan pertumbuhan sektor ini.

Empat sektor menguasai 79,4% dari total utang luar negeri swasta. Keempatnya ialah industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian.

Tenor Panjang dan Pengendalian Risiko

Bank Indonesia mencatat 82,1% dari total utang luar negeri Indonesia berjangka panjang. Pada kelompok swasta, porsi utang berjangka panjang mencapai 75,7%.

Rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto berada pada level 30,6%. Struktur tenor tersebut menjadi bagian dari perhatian dalam menjaga keberlanjutan pembiayaan eksternal.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan peningkatan utang publik terjadi di tengah kontraksi swasta yang lebih rendah. Bank Indonesia dan pemerintah terus berkoordinasi untuk meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

Baca Juga