Di Balik Perpindahan Trump ke C-32A, Turki Sebut Laporan Ancaman Iran Tak Benar

Pejabat Turki menyatakan laporan ancaman serangan yang memicu pemindahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari Air Force One tidak benar. Mereka menilai informasi tersebut merupakan rekayasa intelijen Israel yang berpotensi mengganggu dinamika diplomatik di kawasan.

Meski demikian, laporan itu tetap ditanggapi serius oleh pihak Turki dan Amerika Serikat. Dinas Rahasia AS kemudian menjalankan prosedur keamanan tidak biasa di Ankara pada 8 Juli 2026, termasuk memindahkan Trump melalui truk katering bandara.

Trump meninggalkan Air Force One secara diam-diam setelah menghadiri KTT NATO di Turki. Ia lalu dipindahkan ke pesawat militer C-32A, sementara Air Force One diterbangkan menuju Inggris tanpa presiden.

Ancaman diperlakukan sebagai risiko serius

Informasi yang diterima Dinas Rahasia AS menyebut adanya potensi serangan rudal dari Iran. Pemisahan perjalanan dipakai untuk mengurangi risiko terhadap Trump dan membuat sasaran penerbangan presiden tidak mudah dipastikan.

Gedung Putih membenarkan penggunaan sejumlah metode pengamanan untuk melindungi presiden dari potensi bahaya luar negeri. Direktur Komunikasi Gedung Putih Steve Cheung menyatakan pemerintah menggunakan seluruh perangkat yang tersedia untuk merespons ancaman itu.

“Ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya, dan kami menggunakan setiap alat yang kami punya untuk mengatasi ancaman itu,” kata Cheung. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perubahan pesawat Trump berkaitan dengan penilaian keamanan, bukan pengaturan perjalanan biasa.

PesawatPeranPenumpang utama
Air Force OneMelanjutkan penerbangan ke InggrisPejabat senior dan awak media
C-32AMengangkut Trump secara terpisahDonald Trump

Penggunaan truk katering membuat perpindahan presiden di area bandara tidak menarik perhatian besar. Prosedur tersebut memperlihatkan upaya menjaga kerahasiaan pergerakan Trump ketika laporan ancaman sedang ditangani.

Wartawan di kabin media Air Force One juga sempat diminta menutup tirai jendela selama penerbangan. Menanggapi pertanyaan mengenai instruksi itu, Trump berkata, “Tapi jika saya jatuh, kalian juga jatuh. Benar kan?”

Selat Hormuz menjadi latar kekhawatiran Turki

Menurut penilaian pejabat Turki, laporan ancaman itu diduga ditujukan untuk menggagalkan negosiasi pembukaan Selat Hormuz. Mereka juga menilai informasi tersebut dapat memperburuk hubungan Ankara dengan Teheran.

Middle East Eye mengutip seorang sumber intelijen yang membahas laporan kepada pihak AS pada 8 Juli. Sumber itu menyebut pihak Turki berusaha membantu rekan Amerika mereka meski meragukan kebenaran informasi ancaman tersebut.

“Tentu saja, kami menanggapi laporan itu dengan sangat serius dan mencoba membantu rekan-rekan Amerika kami sebisa mungkin… Namun, sangat jelas bagi kami bahwa laporan ini sama sekali tidak benar,” kata sumber tersebut kepada Middle East Eye. Penilaian itu memperlihatkan perbedaan tajam antara tindakan pengamanan Washington dan pandangan Ankara mengenai kredibilitas laporan.

Pemerintah AS tetap meningkatkan perlindungan terhadap Trump di tengah ketegangan politik dengan Iran. Situasi kawasan yang belum stabil membuat ancaman terhadap keselamatan Presiden AS tetap menjadi perhatian utama.

Baca Juga