Transisi Pimpinan BI Disorot, Pengalaman Aida dan Dua Kandidat Jadi Modal Penting

Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia menempatkan kesinambungan kebijakan sebagai perhatian penting bagi pelaku pasar keuangan. Dalam konteks itu, pengalaman Aida S. Budiman dan dua kandidat lain dari internal BI dinilai menjadi modal yang kuat.

Aida diajukan sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI, sementara Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori diusulkan sebagai calon Deputi Gubernur BI. Ketiga nama tersebut diajukan setelah Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI.

Kesinambungan Menjadi Nilai Utama

Aida saat ini masih menjabat sebagai anggota Dewan Gubernur BI dan telah lama berkarier di bank sentral. Posisi itu membuatnya dinilai memahami proses perumusan kebijakan moneter di Indonesia.

Rahma Gafmi, ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga, memandang pengalaman Aida dapat memberi kepastian dalam masa transisi. Kesinambungan arah kebijakan dinilai penting agar stabilitas bank sentral tetap terjaga.

Rahma juga menilai Aida mempunyai kompetensi kuat dalam merumuskan kebijakan moneter. Ia dinilai dapat bekerja sama dengan Destry di tingkat pimpinan dengan tetap menjaga independensi BI.

“Beliau juga tegas dan mampu untuk bekerja sama dengan Bu Destri dengan baik, tentu ini yang bisa menjaga BI tetap independen,” ujar Rahma kepada Kompas.com di Jakarta, Kamis (13/8/2026). Koordinasi pimpinan dipandang penting dalam pelaksanaan mandat bank sentral.

Keahlian Kandidat dalam Tiga Area

KandidatPosisi UsulanRekam Jejak yang Disorot
Aida S. BudimanDeputi Gubernur Senior BIKebijakan moneter dan anggota Dewan Gubernur BI
Solikin M. JuhroDeputi Gubernur BIMakroprudensial, ekonomi, dan kebijakan moneter
M. Anwar BashoriDeputi Gubernur BISektor riil, pasar keuangan, serta ekonomi syariah

Solikin memiliki pengalaman yang kuat pada kebijakan makroprudensial dan riset kebanksentralan. Ia pernah memimpin Departemen Kebijakan Makroprudensial serta Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI.

Latar belakang tersebut membuat Solikin dinilai memahami keterkaitan sektor keuangan dengan ekonomi moneter. Rahma menilai kekuatannya terletak pada penguasaan teori dan pengalaman empiris ketika membaca perubahan pasar.

“Beliau penguasaan dalam bidang moneter, keuangan sangat mumpuni dan cukup baik hubungannya dengan market, serta didasari dalam penguasaan teori dan empiris yang sangat kuat,” kata Rahma. Penilaian itu menempatkan Solikin sebagai kandidat dengan pengalaman yang relevan terhadap dinamika sektor keuangan.

Peran Anwar pada Stabilitas Struktural

Anwar memiliki pengalaman luas di bidang pengembangan sektor riil, pasar keuangan, serta ekonomi dan keuangan syariah di BI. Rekam jejak tersebut dipandang terkait dengan penguatan fondasi ekonomi domestik.

Fokus pengalamannya mencakup perluasan akses pembiayaan dan pemanfaatan instrumen keuangan inovatif. Menurut Rahma, bidang tersebut dapat mendukung upaya menjaga stabilitas struktural ekonomi.

“Rekam jejaknya sering kali berkaitan erat dengan upaya memperkuat stabilitas struktural ekonomi domestik, termasuk memperluas akses pembiayaan dan pemanfaatan instrumen keuangan yang inovatif,” jelas Rahma. Pengalaman Anwar dinilai melengkapi keahlian moneter dan makroprudensial kandidat lain.

Usulan Presiden kepada DPR

Presiden telah mengirimkan Surat Presiden mengenai usulan calon Dewan Gubernur BI kepada Ketua DPR RI Puan Maharani. Pengajuan itu memperlihatkan pengalaman internal BI menjadi pertimbangan dalam pengisian jabatan strategis.

Rahma menilai keseluruhan susunan kandidat mencerminkan kaderisasi internal yang matang di tubuh BI. Dengan pengalaman yang berbeda tetapi saling mengisi, ketiganya dinilai memiliki modal teknis untuk menghadapi volatilitas ekonomi pada masa mendatang.

Baca Juga