TPA Piyungan Sudah Berhenti, Fasilitas Energi Rp3 Triliun Ditargetkan Beroperasi 2028

Setelah TPA Piyungan dihentikan operasionalnya, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik disiapkan di Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Proyek dengan investasi hingga Rp3 triliun itu ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III atau IV 2028.

Fasilitas tersebut dirancang untuk mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari dari kawasan Kartamantul. Selain mengurangi sisa sampah, proyek ini ditargetkan menghasilkan listrik sebesar 18-20 megawatt.

Jadwal Menuju Operasional 2028

Proyek masih melalui persiapan berupa kajian lingkungan, desain teknik, dan pematangan lahan sebelum konstruksi dimulai. Peletakan batu pertama ditargetkan berlangsung pada Desember 2026.

Konstruksi fisik direncanakan dimulai pada Januari 2027. Pembangunan ditargetkan selesai pada pengujung 2028 agar pengolahan sampah dapat berjalan pada tahun yang sama.

KomponenRencanaTarget
InvestasiPembangunan fasilitas PSELRp2,5 triliun-Rp3 triliun
Pengolahan sampahPasokan dari KartamantulSekitar 1.000 ton per hari
Produksi listrikEnergi dari sampah18-20 megawatt
Tenaga kerja operasionalKebutuhan setelah fasilitas berjalan100-150 orang

Danantara Investment Management melalui PT Daya Energi Bersih Nusantara atau Denera menjadi pihak yang bekerja sama dengan pemerintah daerah DIY untuk menjalankan proyek tersebut. Fadli Rahman, Direktur Investasi Danantara Investment Management sekaligus CEO Denera, menyatakan nilai investasi masih menunggu hasil desain proyek.

“Nilai investasi diperkirakan sekitar Rp2,5 triliun sampai Rp3 triliun, yang tentunya nanti tergantung dari hasil desain itu sendiri pada tahun ini,” kata Fadli. Nota kesepahaman kerja sama telah ditandatangani di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, pada Selasa (11/8).

Kesepakatan Pasokan Sampah Kartamantul

Penandatanganan nota kesepahaman melibatkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Sleman Harda Kiswaya, dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. Pembahasan mencakup kesiapan lahan, ketersediaan sampah, serta tahapan pembangunan fasilitas.

Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul telah menyepakati pasokan sampah bagi fasilitas PSEL. Total pasokan dari ketiga daerah itu diproyeksikan mencapai sekitar 1.099 ton per hari.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY Kusno Wibowo, timbulan sampah di DIY mendekati 2.000 ton per hari. Sebagian sampah akan tetap dikelola melalui TPS, bank sampah, dan fasilitas pengolahan di daerah.

Sisa sampah setelah melalui pengelolaan awal diperkirakan masih berada di kisaran seribu ton per hari. Kusno mengatakan kepada CNN Indonesia bahwa volume sisa tersebut yang kemudian akan dikelola melalui PSEL.

Gunungkidul dan Kulon Progo belum menjadi penopang utama pasokan proyek ini. Kedua wilayah masih dapat ikut serta apabila kebutuhan pengelolaan sampahnya berubah.

Pengeringan Sampah hingga Produksi Energi

Sampah akan ditempatkan di bunker tertutup dan kedap udara untuk dikeringkan selama sekitar lima hari. Air lindi yang dihasilkan akan diolah kembali sebelum sampah kering dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

Panas dari bahan bakar sampah digunakan untuk menghasilkan uap yang memutar turbin listrik. Denera juga menyiapkan perjanjian jual beli listrik dengan PLN sebagaimana diterapkan pada lokasi PSEL lain.

Abu atas dan abu bawah hasil pembakaran direncanakan diolah dengan standar tinggi yang ditargetkan memenuhi standar Eropa. Emisi pembakaran akan disaring secara ketat sebelum dilepaskan ke udara.

Pada masa konstruksi, proyek diproyeksikan menyerap sekitar 500-1.000 tenaga kerja dengan prioritas pekerja lokal. Setelah fasilitas beroperasi, jumlah pekerja yang dibutuhkan diperkirakan mencapai 100-150 orang.

Baca Juga