Penonton di Taiwan dan Jepang tetap memberi respons positif kepada The Panturas meski mayoritas tidak memahami bahasa Indonesia atau Melayu. Bagi band asal Bandung itu, penerimaan audiens bukan persoalan terbesar saat tampil di luar negeri.
Hambatan yang dinilai lebih menentukan justru muncul sebelum mereka naik panggung. The Panturas menyoroti visa yang sulit dan lemahnya paspor Indonesia sebagai kendala besar bagi band yang mendapat kesempatan tampil di mancanegara.
Gogon, pemain bas The Panturas, mengatakan musik dapat menjembatani perbedaan bahasa. Respons penonton melalui tarian dan keterlibatan selama pertunjukan menjadi pengalaman yang menguatkan pandangan tersebut.
Bahasa Daerah Tetap Bisa Menjangkau Pendengar Asing
The Panturas memiliki EP Galura Tropikalia yang dirilis pada 2024. Seluruh trek dalam rilisan itu menggunakan bahasa Sunda.
Penggunaan bahasa Sunda tidak menghentikan band tersebut membangun koneksi dengan pendengar lintas negara. Gogon menilai kekhawatiran mengenai bahasa sering kali terlalu dibesar-besarkan dalam konteks pertunjukan musik.
“Tantangannya ya kita kayak melawan diri sendiri aja, gimana caranya untuk nggak tegang. Karena kalau orang-orang bilang (tantangannya) itu bahasa, kalau buat gua pribadi sih musik udah jadi bahasa universal ya,” kata Gogon dalam wawancara dengan Medcom.id.
Menurutnya, tantangan personal yang lebih terasa adalah mengatasi ketegangan sebelum naik panggung. Situasi itu berbeda dengan hambatan administratif yang dapat menentukan keberangkatan sebuah band.
Undangan Tidak Cukup Tanpa Akses Perjalanan
Gogon menyebut terdapat band Indonesia yang gagal berangkat karena visa tidak terbit. Ia menilai lemahnya paspor Indonesia memperbesar kesulitan musisi untuk memenuhi undangan tampil di luar negeri.
“Tantangannya cuma satu: karena tidak didukung oleh pemerintah! Visa sulit, paspornya lemah! Tantangan terbesar band Indonesia manggung di luar negeri adalah paspornya lemah,” ujar Gogon. The Panturas juga menyebut keterbatasan biaya perjalanan sebagai kendala yang kerap muncul bersamaan dengan persoalan visa.
Band ini memandang dukungan perlu diberikan secara lebih nyata agar musisi dapat memanfaatkan peluang internasional. Gogon menilai musik Asia sedang memperoleh perhatian global dan Indonesia memiliki banyak band potensial untuk ikut tampil.
Pandangan tersebut disampaikan Gogon bersama Ijal, Acin, dan Kuya menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia. Mereka menilai peluang memperluas pasar karya Indonesia dapat tertahan bila akses perjalanan tidak membaik.
Perjalanan Asia Tour 2025
The Panturas menjalani Asia Tour pada Juli 2025 dengan singgah di Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Taiwan. Rangkaian itu berakhir dengan penampilan mereka di Fuji Rock Festival, Jepang.
| Lokasi | Keterangan penampilan |
|---|---|
| Singapura | Bagian dari Asia Tour Juli 2025 |
| Malaysia | Bagian dari Asia Tour Juli 2025 |
| Thailand | Bagian dari Asia Tour Juli 2025 |
| Filipina | Bagian dari Asia Tour Juli 2025 |
| Taiwan | Bagian dari Asia Tour Juli 2025 |
| Jepang | Penampilan penutup di Fuji Rock Festival |
Fuji Rock Festival dikenal sebagai salah satu festival musik berpengaruh di Asia. Pengalaman tur itu memperlihatkan bahwa penonton asing dapat merespons karya Indonesia, termasuk lagu yang tidak menggunakan bahasa internasional.
Bagi The Panturas, persoalannya bukan apakah musik Indonesia dapat diterima. Tantangan utamanya adalah memastikan band yang sudah memperoleh undangan memiliki visa, paspor, dan biaya perjalanan untuk benar-benar sampai ke panggung tujuan.






