Subsidi Dipangkas saat Biaya Hidup Naik, Tunggakan Utang Argentina Tertinggi 20 Tahun

Pemangkasan subsidi di Argentina berlangsung ketika jutaan warga menghadapi keterlambatan pembayaran utang. Center for Argentine Political Economy menyebut angka tunggakan saat ini sebagai yang tertinggi dalam dua dekade terakhir.

Tekanan itu muncul meski pengendalian inflasi menjadi sasaran utama kebijakan efisiensi Presiden Javier Milei. Bagi rumah tangga, turunnya inflasi belum otomatis mengimbangi kenaikan biaya transportasi, gas, obat-obatan, dan kebutuhan pokok.

Pengeluaran meningkat setelah subsidi berkurang

Kebijakan efisiensi Milei mencakup pengurangan sejumlah subsidi untuk menekan inflasi. Dampaknya, kebutuhan rutin menyerap porsi pendapatan lebih besar pada saat banyak keluarga masih memiliki cicilan.

Situasi itu membuat pembayaran utang bersaing langsung dengan kebutuhan dasar. Tagihan kartu kredit dan pinjaman pribadi dapat meningkat ketika peminjam tidak mampu membayar sesuai jadwal.

Juan Cuattromo, Presiden Banco Provincia di Buenos Aires, menilai persoalan tersebut tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada warga. Ia menyebut tunggakan berkaitan dengan “konteks makroekonomi yang memperburuk pendapatan, lapangan kerja, dan aktivitas ekonomi.”

Di sisi lain, Milei menanggapi isu utang masyarakat dengan pernyataan keras dalam sebuah wawancara. “Apakah ada yang menodongkan senjata ke kepala mereka untuk memaksa mereka berutang?” tanyanya.

Skala tunggakan di Argentina

Bank Sentral Argentina mencatat 21 juta orang dari total 46 juta penduduk memiliki utang dalam beragam bentuk. Sekitar 5,8 juta orang di antaranya telah terlambat membayar lebih dari 90 hari.

DataNilaiKeterangan
Total penduduk46 juta orangPopulasi Argentina
Warga memiliki utang21 juta orangBerbagai jenis pinjaman
Tunggakan di atas 90 hari5,8 juta orangWarga terlambat membayar
Jenis kredit bermasalah utamaLebih dari 70 persenPinjaman pribadi dan kartu kredit

Lebih dari 70 persen pinjaman bermasalah berasal dari pinjaman pribadi dan kartu kredit. Angka itu menunjukkan bahwa masalah pembayaran terutama terjadi pada produk kredit yang dekat dengan kebutuhan konsumsi harian.

Nilai pinjaman kecil juga dapat berubah menjadi beban besar jika pembayaran tertunda. Bunga yang terus berjalan membuat total kewajiban sulit dikejar oleh pendapatan yang stagnan.

Kisah tagihan yang membengkak

Andrea, ibu berusia 32 tahun, mengambil pinjaman setelah toko alat tulis tempatnya bekerja berhenti beroperasi. Ia menggunakan kredit untuk membeli oven saat mencoba merintis usaha katering.

Setelah menunggak beberapa bulan, utangnya melonjak dari satu juta peso menjadi lima juta peso. “Saya menunggak bayar tagihan, dan dalam beberapa bulan utang itu membengkak hingga terlalu besar untuk dilunasi,” ujar Andrea.

Claudia Debaste, ibu tunggal berusia 40 tahun dengan pekerjaan kantor bergaji rendah, juga berusaha menangani tagihan kartu kredit. Selain cicilan, ia harus memenuhi biaya utilitas, transportasi, kebutuhan pokok, dan obat-obatan.

Debaste telah menunggak selama empat bulan dan berupaya menjadwalkan ulang kewajibannya. “Saya tidur dan bangun dengan memikirkan bagaimana cara melunasinya,” katanya.

Risiko dari akses kredit cepat

Akses kredit digital memperluas pilihan uang tunai instan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran baru. Mercado Pago, unit pembayaran digital milik Mercado Libre, menawarkan layanan tersebut termasuk kepada remaja berusia 13 tahun.

Gabriel Solano, pemimpin Workers’ Party, mengajukan gugatan pidana terhadap CEO Mercado Libre Marcos Galperin atas tuduhan praktik rentenir. Solano menyatakan melalui platform X bahwa total biaya keuangan efektif pinjaman Mercado Pago mencapai 1.375 persen.

Perdebatan tentang kredit digital menambah dimensi baru dalam krisis pembayaran warga Argentina. Saat biaya hidup naik dan cicilan tertunda, kebutuhan akan perlindungan peminjam semakin menjadi perhatian.

Baca Juga