Di tengah serangan berbalas antara Amerika Serikat dan Iran, Donald Trump menyampaikan gagasan baru mengenai Selat Hormuz. Ia menyatakan jalur perairan strategis itu layak dipertimbangkan untuk menjadi bagian dari wilayah AS.
Usulan tersebut disampaikan ketika Trump mengeklaim Washington memegang kendali penuh atas selat itu melalui blokade. Pernyataan ini menambah dimensi politik dalam konflik yang juga melibatkan keamanan kapal komersial dan arus minyak.
Ketegangan Meningkat Setelah Gencatan Senjata Batal
Trump pada 8 Juli menyatakan gencatan senjata yang dicapai pada malam 18 Juni tidak lagi berlaku. Sejak pernyataan itu, militer AS telah melakukan sejumlah serangan terhadap Iran.
CENTCOM menjelaskan serangan AS merupakan respons terhadap tindakan Teheran kepada kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di sejumlah kawasan Timur Tengah.
Teheran kembali menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata. Dengan demikian, upaya meredakan konflik berlangsung bersamaan dengan aksi militer dari kedua belah pihak.
Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam perselisihan karena berkaitan dengan perlintasan kapal dagang dan pengiriman minyak. Setiap perubahan situasi di kawasan itu memiliki kaitan langsung dengan jalur yang disebut Trump masih terbuka.
Trump Menilai Gagasan Itu Baik
Ketika ditanya wartawan tentang kemungkinan Selat Hormuz menjadi bagian integral AS, Trump menyatakan persetujuannya. “Saya memang berpikir itu ide yang bagus,” kata Trump.
Ia lalu menyebut blokade sebagai dasar klaim kendali Washington atas kawasan tersebut. “Kami mengendalikan (Selat Hormuz) melalui blokade, dan saya menyukai gagasan untuk menyatakannya sebagai wilayah (AS),” ujarnya.
Pada Jumat, Trump kembali mengklaim akan segera menyatakan selat itu sebagai wilayah AS. Ia juga mengatakan blokade telah memberi dampak terhadap arus minyak yang melintasi jalur tersebut.
Menurut Trump, jutaan barel minyak dapat keluar setiap minggu karena selat masih terbuka. Ia menilai harga minyak sedang turun dan dapat terus melemah, kecuali AS mengambil tindakan yang lebih drastis.
Trump tidak menjelaskan tindakan lebih drastis yang dimaksud. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai mekanisme atau tahapan untuk merealisasikan pernyataan tentang status wilayah Selat Hormuz.
Diplomasi Berjalan di Tengah Konflik
Washington dan Teheran dalam beberapa pekan terakhir disebut berusaha menyepakati ketentuan baru guna mengakhiri konflik. Menurut Viva, upaya itu dibantu oleh mediator dari Timur Tengah.
Meski demikian, perbedaan sikap antara kedua pihak belum terselesaikan. Trump pada 9 Agustus mengatakan Washington bernegosiasi dengan Teheran secara setengah hati dan menyebut kondisi ekonomi Iran semakin memburuk.
Pernyataan Trump tentang Selat Hormuz muncul saat jalur tersebut tetap menjadi pusat kepentingan keamanan dan perdagangan. Selama perundingan belum menghasilkan titik temu, isu kendali atas perairan itu berpotensi terus memperberat hubungan AS dan Iran.






