Penguatan yen belum sepenuhnya menghilangkan daya tarik carry trade yang selama ini didukung selisih suku bunga. Karena itu, pasar menilai arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor utama bagi pergerakan mata uang Jepang.
Yen menguat 0,2% ke sekitar 159,04 per dolar AS menjelang simposium Jackson Hole pekan depan. Kenaikan ini terjadi setelah intervensi valuta asing mengubah arah pergerakan yen dari tekanan sebelumnya.
Carry trade adalah strategi meminjam dana dalam mata uang dengan suku bunga rendah, seperti yen, lalu menanamkannya ke aset berimbal hasil lebih tinggi. Selisih imbal hasil tersebut membuat perubahan kebijakan moneter AS sangat sensitif bagi pelaku pasar.
Matthew Tuttle, CEO Tuttle Capital Management, mengatakan intervensi belum mengubah landasan strategi itu. “Intervensi mengubah jalurnya. Namun, intervensi tersebut tidak menghilangkan insentif suku bunga yang mendukung carry trade,” ujar Tuttle.
Jackson Hole Menjadi Penentu Sentimen
Investor menanti simposium Jackson Hole untuk mencari petunjuk langkah kebijakan moneter AS berikutnya. Forum ini menjadi penting setelah data inflasi dan penjualan ritel AS memperlemah ekspektasi kenaikan suku bunga pada September.
CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga September turun menjadi 30,8%, dari 52,2% sebelumnya. Penurunan tersebut memberi tekanan kepada dolar dan membuka ruang penguatan bagi mata uang lain.
| Indikator | Data Terkini | Makna bagi Pasar |
|---|---|---|
| Yen terhadap dolar AS | Menguat 0,2% ke 159,04 | Sentimen dolar melemah |
| Peluang kenaikan suku bunga September | 30,8%, dari 52,2% | Ekspektasi pengetatan menurun |
| Euro terhadap dolar AS | Naik 0,3% ke sekitar US$1,1614 | Dolar berada di bawah tekanan |
Namun, penurunan probabilitas tersebut belum berarti risiko pengetatan telah selesai. Thomas Simons, Kepala Ekonom AS Jefferies, mengingatkan bahwa data yang ada masih memuat sejumlah anomali.
“Masih terdapat cukup banyak kejanggalan dalam data untuk membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun,” kata Simons. Pandangan itu menjaga kehati-hatian investor menjelang pernyataan para pejabat The Fed.
Yen Masih Dekat Posisi Terlemah
Meski menguat, yen masih berada tidak jauh dari level terlemah dalam empat dekade pada akhir Juli. Jepang dan Amerika Serikat ketika itu melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam pelemahan mata uang Jepang.
Data ekonomi Jepang pada kuartal kedua juga menunjukkan pertumbuhan yang lebih lemah dari perkiraan. Kondisi domestik tersebut menjadi latar yang kontras dengan kenaikan yen menjelang agenda penting bank sentral AS.
Indeks dolar AS sendiri turun ke level terendah sejak awal Juni di tengah pergeseran perkiraan suku bunga. Euro sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan di sekitar US$1,1614 sebelum terakhir tercatat menguat 0,3%.
Dolar juga melemah terhadap yuan China hingga mencapai posisi terendah sejak 2023. Pergerakan yuan berlangsung ketika produksi industri serta penjualan ritel China pada Juli tumbuh lebih rendah dari perkiraan.
Data dan Geopolitik Tetap Diawasi
Pasar valuta asing masih akan sensitif terhadap rilis ekonomi berikutnya dari Amerika Serikat. Pernyataan pejabat The Fed dapat dengan cepat mengubah penilaian pasar atas jalur suku bunga dan nilai dolar.
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga tetap menjadi faktor yang dicermati investor. Kombinasi risiko tersebut membuat pergerakan yen dan mata uang utama lain berpotensi tetap berfluktuasi.






