Sistem Imun Bisa Menyerang Organ Sendiri, Autoimun Diperkirakan Capai 4 Juta

Sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi dapat berubah menjadi sumber serangan terhadap organ sendiri pada penyakit autoimun. Kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 4 juta orang dewasa di Indonesia.

Perkiraan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa sekitar 2 persen populasi dewasa mengalami autoimun. Dampaknya dapat mengenai kulit, ginjal, paru-paru, hati, serta organ lain bergantung pada jenis penyakitnya.

Dalam kondisi normal, sistem imun mengenali bakteri, virus, dan parasit sebagai ancaman yang harus dihancurkan. Pada autoimun, mekanisme itu keliru sehingga sel tubuh sendiri dapat dianggap sebagai benda asing.

Ada yang Menyerang Satu Organ, Ada yang Menyebar

Autoimun tidak memiliki sasaran yang seragam pada setiap penyakit. Sebagian hanya menyerang satu organ tertentu, sementara sebagian lainnya bersifat sistemik dan dapat melibatkan banyak organ.

Kelompok PenyakitTarget UtamaContoh
Autoimun organ spesifikSatu organHashimoto, diabetes melitus tipe 1
Autoimun sistemikBerbagai organLupus, rheumatoid arthritis, scleroderma

Hashimoto menyerang kelenjar tiroid, sedangkan diabetes melitus tipe 1 berkaitan dengan serangan terhadap pankreas. Sementara itu, lupus menjadi salah satu contoh autoimun sistemik yang dapat melibatkan sejumlah organ.

Rheumatoid arthritis dan scleroderma juga termasuk kelompok autoimun sistemik. Perbedaan sasaran serangan ini membuat kondisi dan keluhan pasien dapat bervariasi.

Kelompok Perempuan Muda Mendominasi

Perempuan muda merupakan kelompok yang lebih sering mengalami autoimun. Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, menyatakan sekitar 80 persen pasien adalah perempuan dan sekitar 20 persen lainnya laki-laki.

Sistem imun yang masih sangat aktif pada usia muda disebut dapat berperan dalam kerentanan tersebut. Faktor hormonal, khususnya perubahan atau ketidakseimbangan estrogen, juga dinilai memengaruhi risiko.

Nyoman merupakan pakar reumatologi, internis, dan herbal dari FK-KMK UGM. Penjelasannya mengenai besarnya jumlah pasien autoimun di Indonesia dikutip Kompas.com.

Pemicu dan Tantangan Perawatan

Faktor genetik serta lingkungan dapat berkontribusi terhadap munculnya autoimun. Polusi udara, pola makan, dan stres menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

Stres disebut sebagai pemicu dominan yang kadang terlewatkan, termasuk pada mahasiswa. Nyoman menuturkan ada mahasiswa dari UGM dan kampus lain yang awalnya sehat, kemudian mengalami autoimun setelah menghadapi tekanan akademik serta beban hidup.

Pasien dianjurkan menghindari stres, kelelahan, dan paparan sinar matahari berlebihan. Mengenai makanan, belum ada bukti ilmiah kuat bahwa satu jenis makanan pasti memicu autoimun pada seluruh pasien.

Respons terhadap makanan dapat berbeda, sehingga pasien perlu mengamati pemicu kekambuhan yang dirasakan. Pasien juga perlu berhati-hati untuk tidak menghentikan pengobatan hanya karena merasa kondisinya telah membaik.

Pengobatan imunosupresan menekan sistem imun, meski tubuh tetap membutuhkan sistem tersebut untuk melawan infeksi. Nyoman mengembangkan penelitian obat herbal dengan harapan terapi mendatang dapat membantu memulihkan fungsi sistem imun secara normal.

Baca Juga