Ruang Kelas Tak Lagi Aman di NTT, 50 Tenda Disiapkan untuk 253 Sekolah Terdampak

Ruang kelas yang rusak akibat gempa magnitudo 7,7 di Laut Flores tidak akan digunakan sementara untuk kegiatan belajar mengajar. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan 50 tenda agar pembelajaran di 253 satuan pendidikan terdampak di Nusa Tenggara Timur dapat dialihkan ke tempat yang lebih aman.

Langkah tersebut diambil karena keselamatan murid dan guru menjadi perhatian utama selama pemulihan. Gempa juga menyebabkan dua murid dan seorang guru meninggal dunia.

Pembelajaran Dialihkan ke Lokasi Aman

Kemendikdasmen mengarahkan penghentian sementara kegiatan belajar di bangunan yang dinilai tidak layak. Tenda kelas darurat dan ruang aman akan digunakan untuk menekan risiko bagi warga sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan pemulihan pendidikan dilakukan bersama pemerintah daerah. “Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” ujarnya di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Pendampingan pemulihan trauma juga disiapkan untuk warga sekolah yang terdampak bencana. Program tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia atau Himpsi.

Data Kerusakan di Tujuh Kabupaten

Data hingga 16 Agustus 2026 mencatat 199 satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, SMP, dan SKB di bawah kewenangan kabupaten mengalami kerusakan. Sebanyak 54 satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, serta SLB yang berada dalam kewenangan provinsi turut terdampak.

Manggarai Timur menjadi wilayah dengan dampak paling parah berdasarkan catatan Kemendikdasmen. Penanganan logistik kemudian dibagi menjadi dua jalur pengiriman untuk menjangkau daerah terdampak secara lebih cepat.

PengirimanJadwal KeberangkatanTujuanBantuan
Klaster pertama20 Agustus 2026Labuan Bajo30 tenda, family kit, dan school kit
Klaster kedua21 Agustus 2026Pelabuhan Ende20 tenda untuk sekolah terdampak

30 Tenda Menuju Tiga Wilayah Manggarai

Klaster pertama diangkut KM Dharma Rucitra 7 dari Surabaya menuju Labuan Bajo. Bantuan itu terdiri atas 30 tenda, 1.000 family kit, 200 school kit umum, serta 2.000 school kit bagi SMA dan SMK.

Bantuan klaster pertama disiapkan untuk Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Investor Daily mencatat logistik tersebut dijadwalkan tiba pada 22 Agustus 2026, dengan pemasangan tenda ditargetkan dimulai pada 23 Agustus 2026.

Sementara itu, klaster kedua membawa 20 tenda dari Malang menggunakan KM Dharma Rucitra 8 menuju Pelabuhan Ende. Distribusinya difokuskan untuk sekolah di Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo melalui koordinasi Balai Penjaminan Mutu Pendidikan NTT di SKB Ende.

Konektivitas Dibutuhkan saat Jaringan Terputus

Selain ruang belajar sementara, pemerintah menerjunkan perangkat Starlink ke wilayah yang terdampak putus jaringan listrik dan telekomunikasi. Perangkat ini diharapkan menjaga arus komunikasi serta koordinasi penanganan di lokasi bencana.

Tim lintas direktorat bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana mengawal asesmen kerusakan sekolah di lapangan. Hasil verifikasi fisik yang ditargetkan selesai pada pekan berikutnya akan menjadi dasar kelanjutan pemulihan layanan pendidikan.

Baca Juga