Rating AAA Jadi Modal Indonesia Masuk Pasar China, Dana Panda Bond Capai CNY7 Miliar

Peringkat kredit AAA dari Lianhe Rating Co. Ltd. menjadi salah satu modal Indonesia memasuki pasar surat utang China melalui penerbitan Panda Bond perdana. Pemerintah menghimpun dana CNY7 miliar melalui obligasi berdenominasi renminbi yuan tersebut.

Nilai penerbitan itu setara sekitar US$1 miliar atau Rp18,5 triliun dengan kurs Rp2.646 per yuan. Total pesanan investor bahkan mencapai CNY17 miliar atau Rp44,9 triliun, setara 2,4 kali dana yang dihimpun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai prospek penerbitan obligasi ini positif setelah Indonesia memperoleh peringkat AAA dengan prospek stabil. Peringkat tersebut diberikan oleh lembaga pemeringkat China, Lianhe Rating Co. Ltd.

Menurut Purbaya, penilaian itu mencerminkan pengelolaan fiskal pemerintah yang prudent dan berhati-hati. Kondisi perekonomian yang solid, rasio utang terhadap produk domestik bruto yang relatif rendah, dan kapasitas cadangan devisa menjadi faktor pendukung.

“Itu menunjukkan bahwa kebijakan Pak Prabowo mengendalikan fiskal benar,” kata Purbaya di Aula Mezzanina, Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026. Ia menegaskan pengendalian fiskal tersebut dijalankan secara prudent dan berhati-hati.

China Dinilai Pasar Besar Surat Utang

Dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Juli 2026, Purbaya menyebut China sebagai pasar besar bagi surat utang. Ia menilai peringkat AAA dapat membuat strategi pembiayaan pemerintah lebih mudah dilaksanakan.

Panda Bond menjadi penerbitan pertama Surat Berharga Negara berdenominasi yuan oleh pemerintah di pasar domestik China. Transaksi dilaksanakan pada 23 Juli 2026 dan penyelesaiannya dijadwalkan pada 30 Juli 2026.

Instrumen ini memberi tambahan akses kepada basis investor di China. Penerbitannya berlangsung ketika pemerintah menjalankan strategi pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan APBN 2026.

Hingga semester I/2026, realisasi pembiayaan utang APBN mencapai Rp477,4 triliun. Jumlah itu setara 57,4% dari target pembiayaan APBN yang ditetapkan sebesar Rp832,2 triliun.

Realisasi tersebut terdiri atas penerbitan SBN sebesar Rp501,2 triliun yang dikurangi pinjaman Rp23,8 triliun. Kehadiran Panda Bond Indonesia menambah jalur pembiayaan pemerintah melalui pasar internasional berbasis yuan.

Dua Seri dengan Respons Kuat

Pemerintah menawarkan dua seri obligasi, yakni tenor tiga tahun dan lima tahun. Seri tiga tahun menjadi porsi terbesar penerbitan, sedangkan seri lima tahun mencatat rasio pemesanan paling tinggi.

TenorNilai PenerbitanPemesananImbal Hasil
3 tahunCNY5,6 miliarCNY12,38 miliar1,9%
5 tahunCNY1,4 miliarCNY4,62 miliar2,19%

Seri tiga tahun memperoleh pesanan 2,2 kali dari nilai yang ditawarkan. Sementara itu, seri lima tahun mencatat rasio pemesanan terhadap penerbitan sebesar 3,3 kali.

Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, menyatakan pesanan gabungan kedua seri mencapai CNY17 miliar. Angka tersebut menghasilkan rasio pemesanan keseluruhan sebesar 2,4 kali.

Bank of China bertindak sebagai penjamin emisi utama sekaligus pelaksana utama transaksi. ICBC, CITIC, CICC, dan DBS menjadi pelaksana pembukuan bersama.

ABC, CCB, dan CEXIM ditunjuk sebagai manajer penerbitan. Struktur tersebut mendukung pelaksanaan penawaran Surat Berharga Negara Indonesia kepada investor di pasar China.

Purbaya menyatakan kebijakan fiskal akan terus mendukung perekonomian. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I/2026, dan pertumbuhan pada semester kedua diperkirakan dapat bergerak lebih cepat.

Baca Juga