Sapi hitam yang dicat garis putih vertikal tampak tidak lazim, tetapi perlakuan itu menghasilkan manfaat terukur dalam penelitian Jepang. Jumlah lalat yang hinggap lebih sedikit dan perilaku sapi untuk mengusir serangga juga menurun.
Temuan tersebut menjadi alasan tim pimpinan Tomoki Kojima dari Aichi Agricultural Research Center menerima Ig Nobel Prize ke-35 bidang biologi. Penghargaan itu diumumkan pada 18 September 2025 dan menyoroti nilai praktis dari corak menyerupai zebra.
Perilaku Sapi Menjadi Petunjuk Utama
Gangguan lalat tidak hanya terlihat dari banyaknya serangga yang menempel di tubuh ternak. Peneliti juga mengukur respons sapi berupa sentakan kepala, hentakan kaki, dan kibasan ekor.
Gerakan-gerakan tersebut dihitung selama pengamatan 30 menit pada pagi dan sore hari. Pada akhir sesi, peneliti memotret tubuh serta kaki sapi untuk menghitung lalat yang sedang hinggap.
Kelompok dengan garis putih ala zebra mencatat lalat lebih sedikit daripada dua kelompok pembanding. Frekuensi gerakan pengusiran lalat pada kelompok ini pun lebih rendah.
Tiga Kondisi dalam Satu Pengujian
Penelitian memakai tiga sapi hitam, warna yang umum dijumpai pada sapi Wagyu. Masing-masing sapi menjalani seluruh kondisi secara bergiliran, lalu eksperimen diulang dua kali.
| Perlakuan | Rincian | Peran pembanding |
|---|---|---|
| Garis putih vertikal | Corak menyerupai zebra | Menguji dampak pola kontras |
| Garis hitam | Cat hitam pada tubuh sapi | Menguji pengaruh warna dan pengecatan |
| Tanpa garis | Warna tubuh dibiarkan alami | Menguji kondisi tanpa pola |
Cat diperbarui setiap pagi selama tiga hari berturut-turut. Pengecatan dilakukan secara bebas tangan dan memerlukan waktu sekitar lima menit untuk setiap ekor sapi.
Tiga sapi hitam tambahan yang tidak terlibat pada pengujian awal juga direkrut setahun kemudian. Langkah itu dilakukan untuk memperbesar jumlah sampel penelitian.
Lalat Diduga Keliru Membaca Jarak
Prof Upik Kesumawati dari IPB University menjelaskan bahwa pola kontras seperti zebra berpotensi mengganggu pemrosesan visual serangga. Lalat diduga sulit memperkirakan jarak dan kecepatan saat akan mendarat.
Hal ini penting bagi peternakan karena lalat pengisap darah dapat menyebabkan rasa sakit dan menurunkan produktivitas ternak. Serangga tersebut juga dapat berperan sebagai vektor penyakit.
Pengaruh garis diperkirakan lebih besar terhadap spesies yang aktif pada siang hari, termasuk Stomoxys calcitrans dan Haematobia exigua. Nyamuk dan agas yang banyak aktif malam hari mengandalkan sinyal kimia serta panas tubuh inang, sehingga responsnya terhadap pola visual dapat lebih kecil.
Dari Teori Zebra ke Peternakan
Kojima memperoleh gagasan penelitian setelah menyaksikan acara televisi tentang berbagai teori fungsi garis zebra. Ketertarikan itu membawanya pada studi Tim Caro dari University of Bristol yang diterbitkan pada 2014.
Penelitian Caro mengkaji hubungan pola garis zebra dengan iklim, predator besar, dan hama. Hasil kajiannya mengarah pada kemungkinan bahwa pola tersebut terutama berevolusi untuk mengusir hama, bukan untuk kamuflase, pendinginan, atau pengenalan antarzebra.
Penelitian sebelumnya juga memperlihatkan kecenderungan lalat menghindari permukaan berpola hitam-putih. “Makalah Caro itulah yang memberi saya ide untuk penelitian kami,” ujar Kojima seperti dikutip Kompas.com.
Mantel Zebra Pernah Diuji IPB University
Pendekatan tanpa cat langsung pada kulit sapi juga pernah dikembangkan melalui MANCEZ, inovasi mahasiswa IPB University pada 2021. Produk tersebut berupa mantel bercorak zebra yang dibuat oleh Cahya Jupisa dan tim di bawah bimbingan Prof Upik.
Dalam pengujiannya, MANCEZ dilaporkan mampu mengurangi gigitan Stomoxys calcitrans sekitar 50 persen. Mantel itu juga dilaporkan membantu menjaga kenyamanan suhu tubuh sapi dan mengurangi stres akibat serangga.
Penggunaan metode serupa di Indonesia masih membutuhkan kajian mengenai keamanan bahan, ketahanan di iklim tropis, ukuran garis yang paling efektif, dan biaya bagi peternak. Di tengah kemasan humor Ig Nobel Prize, riset ini menunjukkan peluang solusi sederhana untuk kesehatan serta kenyamanan ternak.






