Riset Ungkap Alis Khas Memengaruhi Kesan Narsistik, Diagnosis Tetap Tak Bisa Sembarangan

Alis khas dapat membuat orang lain menangkap kesan narsistik dari sebuah wajah, bahkan saat ekspresi yang ditampilkan netral. Riset University of Toronto menemukan bahwa unsur ini menjadi petunjuk visual yang menonjol dalam penilaian tersebut.

Temuan itu perlu dibaca dengan batas yang jelas. Alis tebal, rapi, atau padat tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik.

Kesan Cepat dari Sebuah Foto

Studi dalam Journal of Personality menggunakan foto hampir 40 mahasiswa untuk menguji bagaimana wajah dibaca oleh pengamat. Mahasiswa tersebut berpose dengan ekspresi netral dan juga mengikuti tes sifat narsistik.

Peneliti memakai Narcissistic Personality Inventory untuk mengukur tingkat sifat narsistik para peserta. Nilainya lalu disejajarkan dengan tebakan peserta lain yang hanya melihat foto wajah.

Para pengamat ternyata cukup baik dalam memperkirakan tingkat sifat narsistik seseorang. Alis menjadi salah satu bagian wajah yang banyak digunakan untuk membangun perkiraan itu.

Pertukaran Alis Menggeser Penilaian

Untuk menilai dampaknya, peneliti memindahkan alis dari wajah yang dipersepsikan narsistik ke wajah yang dinilai tidak narsistik, dan sebaliknya. Langkah ini memungkinkan mereka melihat apakah kesan terhadap wajah akan berubah.

Ketika wajah yang sebelumnya dipandang narsistik memakai alis dari kelompok non-narsistik, tingkat penilaian narsistiknya cenderung menurun. Wajah lain dapat dipandang lebih narsistik setelah menerima alis yang diasosiasikan dengan kelompok pertama.

Ketebalan serta kepadatan rambut alis diperkirakan menjadi unsur penting yang memengaruhi pembacaan tersebut. Artinya, pengamat dapat memberi bobot besar pada tampilan alis saat menyusun kesan awal tentang seseorang.

Fungsi Sosial Alis

Alis bukan sekadar bagian untuk mempertegas penampilan wajah. Bagian ini berperan dalam komunikasi nonverbal dan membantu manusia mengenali wajah orang lain.

Kepekaan terhadap alis juga dikaitkan dengan pengenalan wajah dan pemilihan pasangan pada perempuan maupun laki-laki. Kondisi tersebut membuat perawatan alis menjadi bagian yang mudah terlihat dalam identitas visual seseorang.

Namun, penelitian ini tidak mencari penjelasan biologis atau psikologis yang pasti mengenai hubungan alis dan persepsi narsisme. Kajian tersebut terutama menyoroti cara penilaian sosial terbentuk berdasarkan tampilan wajah.

Penampilan Bukan Dasar Diagnosis

Individu dengan tingkat narsisme lebih tinggi dilaporkan cenderung memakai busana yang modis, bergaya, dan mahal. Mereka juga disebut memiliki penampilan lebih rapi, terorganisir, dan menarik.

Menurut pemberitaan inet.detik.com, perhatian pada penampilan itu dikaitkan dengan kecenderungan ingin dikagumi. Hubungan tersebut tetap tidak berarti setiap orang yang tampil rapi memiliki ciri narsistik.

Istilah narsisis berasal dari Narcissus dalam mitologi Yunani, sosok yang terpikat pada bayangan dirinya. Dalam pemahaman umum, orang dengan sifat narsistik kuat dapat tampak menawan pada kesan awal, tetapi juga memperlihatkan sikap berpusat pada diri sendiri dan pandangan berlebihan terhadap kemampuan atau penampilan.

Karena itu, alis sebaiknya dipahami sebagai faktor yang memengaruhi persepsi, bukan ukuran karakter yang berdiri sendiri. Penilaian klinis mengenai gangguan kepribadian memerlukan dasar yang jauh lebih luas daripada tampilan wajah.

Baca Juga