Bukan Lagi Limbah, Daun Nanas Kelud Kini Berpeluang Masuk Fesyen hingga Interior

Daun nanas dari kawasan Kelud yang biasanya berakhir sebagai limbah pertanian kini dikembangkan menjadi material untuk fesyen, aksesori, hingga elemen interior. Material tersebut hadir dalam karya tekstil Barik yang mengandalkan karakter asli serat daun nanas.

Peluang pemanfaatan itu memperlihatkan bahwa sisa tanaman dapat memiliki nilai baru tanpa menghapus sifat alaminya. Barik justru mempertahankan perbedaan warna, tekstur, dan ketebalan pada serat sebagai unsur visual utama.

Karya Barik telah ditampilkan dalam pameran seni internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Bali. Pameran itu menghadirkan 79 karya dari 50 seniman dan praktisi yang berasal dari delapan negara.

Kehadiran dalam pameran tersebut menunjukkan bahwa serat daun nanas dapat diposisikan lebih jauh dari sekadar bahan eksperimen. Material ini berpotensi menjadi bagian dari produk kriya, panel dekoratif, produk fesyen, serta aksesori.

Kolaborasi dari Lahan hingga Produk

Pengembangan bahan berbasis daun nanas membuka ruang kerja sama bagi petani nanas, perajin tenun, desainer, peneliti, industri, dan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut berpotensi memberi nilai tambah pada daun yang sebelumnya tidak banyak dimanfaatkan.

Di sisi lain, pengembangan serat alam menempatkan keberlanjutan dan pemanfaatan limbah pertanian sebagai isu penting. Material lokal dari Kelud juga membawa pembicaraan tentang hubungan manusia dengan alam dan nilai pengetahuan tradisional.

Barik dikembangkan oleh Inty Nahari, dosen Program Magister Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya. Ia mengolah serat daun nanas Kelud dengan teknik tenun kluwung untuk membentuk tampilan tekstil yang berbeda pada setiap karya.

Pola tenun memberikan susunan yang teratur, tetapi sifat serat tidak dibuat menjadi seragam. Karena itu, tiap bidang tekstil memiliki kemungkinan tampilan yang tidak sama dan sulit direplikasi secara identik.

Garis Alami yang Dipertahankan

Nama Barik diambil dari bahasa Jawa yang berarti garis. Nama itu menggambarkan bentuk serat daun nanas yang muncul sebagai garis-garis dengan variasi tekstur, warna, dan ketebalan.

Karakter serat dipengaruhi oleh lingkungan tempat tanaman tumbuh serta proses pengolahannya. Kondisi tanah, intensitas cahaya matahari, dan curah hujan disebut ikut membentuk jejak yang terlihat pada material.

“Ketidakteraturan tersebut tidak saya pandang sebagai kekurangan, tetapi sebagai rekaman alami dari lingkungan tempat tanaman itu tumbuh,” ujar Inty dalam keterangan yang dikutip Kompas.com. Pendekatan tersebut menjadikan ketidakteraturan sebagai bagian dari nilai artistik Barik.

Inty memandang serat daun nanas Kelud sebagai bahan yang sangat lokal, namun tetap terkait dengan perhatian yang lebih luas. Ia menyebut perlunya menghargai kembali pengetahuan tradisional dalam pengolahan material setempat.

“Serat daun nanas dari kawasan Kelud merupakan material yang sangat lokal, tetapi dapat membicarakan isu yang sedang menjadi perhatian dunia,” kata Inty. Gagasan itu menjadi dasar untuk melihat serat alam bukan hanya sebagai bahan produksi, melainkan juga pembawa cerita lingkungan.

Riset Berawal pada 2023

Eksplorasi daun nanas madu Kelud dimulai pada 2023. Pada tahap awal, serat tersebut diolah menjadi bahan tenun ATBM dengan inspirasi relief Candi Palah Penataran.

TahapWaktuPengembangan Material
Eksplorasi awal2023Daun nanas madu Kelud diolah menjadi serat tenun ATBM dengan inspirasi relief Candi Palah Penataran.
Eksplorasi berikutnyaSetelah tahap awalKeragaman serat alam di lereng Gunung Kelud ditelusuri untuk memahami karakter dan peluang produk.

Riset lanjutan kemudian menelusuri keragaman serat alam di lereng Gunung Kelud. Inty ingin memperluas jejaring riset serat alam Indonesia melalui pusat dokumentasi dan laboratorium yang mengkaji karakter material, teknik pengolahan, serta hilirisasi Barik.

Baca Juga