Rasa Bersalah Ibu Bisa Menumpuk Setelah Melahirkan, Kritik Pengasuhan Jadi Pemicu

Rasa bersalah pada ibu dapat terus bertambah ketika tekanan setelah melahirkan tidak ditangani dengan baik. Kritik terhadap cara mengasuh anak dapat menjadi pemicu tambahan yang memperberat kecemasan.

Spesialis kesehatan jiwa dr Elvine Gunawan, SpKJ, menyoroti bahwa ibu yang baru melahirkan sering menjalani fase baby blue syndrome. Stres yang muncul dalam proses adaptasi dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius apabila tidak berjalan baik.

Kondisi itu dapat berujung pada postpartum depression atau kecemasan setelah melahirkan. Gejalanya dapat muncul setelah enam bulan, antara lain ibu menarik diri dari lingkungan dan merasa terlalu cemas.

Gejala psikologis tersebut tidak selalu mudah dikenali oleh orang sekitar. Ibu dapat terus mempertanyakan kemampuannya dalam merawat serta mendukung pertumbuhan anak.

Penghakiman Membuat Ibu Makin Ragu

Mom shaming dapat hadir melalui komentar tentang makanan, pola asuh, dan perkembangan anak. Penghakiman dari luar berisiko membuat ibu merasa perannya sedang dinilai secara negatif.

Dr Elvine menggambarkan kecemasan itu dapat berkembang menjadi kekhawatiran bahwa ibu tidak mampu menjalankan pengasuhan dengan baik. Ketika penilaian negatif terus muncul, rasa takut dianggap gagal dapat semakin kuat.

“Biasanya nggak dinotice oleh orang di sekitarnya. Kelihatan lebih cemas gitu ya, kayak ‘bisa nggak ya menumbuh-kembangkan anak’, udah di-judging lagi, ‘jangan-jangan gue ibu yang gagal’,” kata dr Elvine dalam Talkshow Early Life Nutrition – Next Gen(Re) Parenting di Jakarta Pusat.

Tekanan dapat terasa lebih berat apabila komentar datang dari lingkungan terdekat. Hal itu karena kritik tidak hanya menyoal pilihan pengasuhan, tetapi juga dapat menyentuh rasa percaya diri ibu.

Kekhawatiran soal Pertumbuhan Anak

Kesehatan mental ibu perlu diperhatikan ketika ada kekhawatiran mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut dr Elvine, kurva pertumbuhan anak yang menurun dapat memperparah kecemasan yang telah ada.

Ibu dalam kondisi cemas dapat berulang kali meminta kepastian kepada dokter tentang keadaan anaknya. Dokter anak disebut kerap menjadi pihak yang lebih dahulu menyadari bahwa kecemasan tersebut sudah tidak normal.

“Kalau kurvanya turun aja, wah ke dokter, ‘anaknya gimana dokter? gimana?’ Biasanya yang notice dokter anak, ‘ini kayaknya cemasnya udah nggak normal’,” ujar dr Elvine.

Perbandingan Anak Juga Menjadi Beban

MerdiOctav Sahetapy membagikan pengalaman saat dirinya memikirkan komentar warganet yang membandingkan tumbuh kembang anak pertama dan keduanya. Komentar seperti itu dapat menyakitkan karena setiap ibu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak.

“Jujur sedih ya karena kayak setiap ibu itu pasti akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Jadi pas mendapatkan komentar-komentar kayak gitu, seorang ibu tuh ngerasa bersalah dan tertekan dong,” tuturnya.

Ia juga menyoroti penilaian tentang pemberian makanan kepada anak, khususnya selama proses MPASI. Anggapan bahwa ibu memberi makan anak secara sembarangan dapat menambah tekanan emosional yang sudah dirasakan.

“Kita sudah memberikan anak yang terbaik, nggak mungkin lah kita kasih makan anak sembarangan, apalagi kalau misalnya dia lagi proses MPASI, kan nggak mungkin,” tandas MerdiOctav. Kritik tentang pengasuhan karena itu tidak semestinya dianggap ringan, terutama ketika ibu sedang menghadapi kecemasan.

Baca Juga