Sisa makanan di RT 08 RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Warga mencacah material organik tersebut untuk pakan maggot, lalu memasukkannya ke rantai budidaya ikan dan ayam petelur.
Sistem perputaran bahan organik itu menjadi salah satu bagian dari inovasi lingkungan mandiri yang meraih Excellence Award. Penghargaan diberikan oleh International Board of Standards (IBS) Amerika Serikat dan China kepada kawasan tersebut.
Rantai pakan dibangun dari sisa konsumsi warga
Pengurus RT menetapkan target agar tidak ada sampah organik yang dikirim ke tempat pembuangan akhir. Mesin chopper digunakan untuk mencacah sisa makanan sebelum bahan itu diberikan kepada maggot.
Maggot hasil budidaya kemudian dipakai sebagai pakan lele, gurame, serta ayam petelur. Bagian lele yang tidak dikonsumsi juga kembali dicacah untuk memberi pakan maggot pada siklus berikutnya.
Ketua RT 08, Taufiq Supriadi, menyebut bagian ikan yang tersisa tetap dapat dimanfaatkan. “Kepala lele, daleman lelenya nggak dipakai. Semuanya kita ambil, masukin ke chopper. Kasih lagi ke maggot. Itu cepat gede,” ujarnya.
| Alur Pengelolaan | Material | Hasil Pemanfaatan |
|---|---|---|
| Pencacahan | Sisa makanan dan bagian lele | Bahan pakan maggot |
| Budidaya maggot | Material organik cacahan | Pakan lele, gurame, dan ayam |
| Peternakan ayam | Sampah daun cacahan | Alas kandang untuk komposting |
| Kolam gizi | U-Ditch dua tingkat 42 meter | Protein bagi warga tertentu |
Kandang ayam memanfaatkan daun kering
Warga memelihara ayam petelur Lohmann Brown dengan kandang yang dirancang untuk mengurangi bau di kawasan permukiman. Alas kandang menggunakan sampah daun yang telah dicacah dan dicampur sebagai bahan komposting.
Sirkulasi udara serta lorong terbuka menjadi unsur rancangan kandang tersebut. Telur yang dihasilkan dimanfaatkan untuk konsumsi, sementara material daun tetap dikelola dalam siklus organik lingkungan.
Pangan, air, dan energi berada dalam satu sistem
RT 08 Malaka Jaya juga mengubah saluran bawah tanah berbahan beton U-Ditch dua tingkat menjadi kolam gizi sepanjang 42 meter. Kolam ini menyediakan protein gratis untuk balita, lansia, dan ibu hamil.
Penampungan air hujan dan pembuatan lubang biopori di setiap pekarangan menjadi bagian dari konservasi air. Di bidang energi, panel surya berkapasitas 10.000 watt yang didukung dana CSR dipakai untuk kebutuhan operasional RT.
Keamanan dan administrasi menggunakan teknologi
Kawasan tersebut memiliki 16 titik CCTV yang dapat dipantau melalui telepon seluler warga. Kamera terhubung dengan pengeras suara agar pengurus dapat merespons aktivitas yang dipandang mencurigakan.
Layanan informasi warga disediakan lewat aplikasi RTOnline. Aplikasi ini memuat laporan keuangan secara transparan dan membantu proses validasi data bantuan sosial.
Pengakuan atas tata kelola tingkat RT
Dalam kurang dari tiga tahun kepemimpinan pengurus setempat, sistem ini disebut telah memenuhi kriteria praktik tata kelola kawasan lintas yuridiksi. Menurut laporan Detik iNET pada Rabu (12/8/2026), pengurus RT dipimpin seorang akademisi bergelar doktor lulusan Institut Teknologi Bandung.
Taufiq menilai ketahanan lingkungan perlu dibangun dari unit masyarakat yang paling dekat dengan warga. “Bangunan nggak akan kuat lama. Nah, fondasi itu adalah kita, RT,” kata Taufiq.
Penghargaan internasional tersebut menyoroti cara sebuah lingkungan permukiman menghubungkan pengelolaan sampah, pangan, air, energi, dan layanan warga dalam satu tata kelola. Setiap bagian program dirancang untuk menjawab kebutuhan sehari-hari penduduk di kawasan itu.






