Kirab Bendera Pusaka pada HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan hanya menampilkan barisan berkuda dan kendaraan pengawal. Di dalamnya terdapat latihan disiplin, pembagian tugas ketat, serta tanggung jawab untuk menjaga bendera dan teks Proklamasi.
Rangkaian dari Istana Merdeka menuju Monas di Jakarta berlangsung pada Senin, 17 Agustus 2026. Prosesi itu melibatkan Paskibraka Nasional, sekitar 120 ekor kuda, dan pasukan motoris yang menjalankan fungsi pengawalan berbeda.
Disiplin Ditempa hingga Menjelang Malam
Kapten Pnb Bagus Setianto selaku Komandan Kompi Upacara Penurunan Bendera menyatakan latihan digelar sejak pagi sampai sore. Kegiatan tersebut terkadang berlanjut hingga menjelang malam untuk mempersiapkan pelaksanaan upacara.
Menurut Bagus, disiplin tetap menjadi dasar latihan para anggota Paskibraka. Pembina juga membangun kedekatan melalui cerita dan canda tawa agar suasana latihan tidak kaku, tanpa mengurangi keseriusan tugas.
Ketelitian itu diperlukan karena petugas membawa simbol penting negara dalam prosesi nasional. Setiap posisi harus dijalankan sesuai formasi agar upacara dan kirab dapat berlangsung aman serta lancar.
Formasi Pengawalan di Jalanan Jakarta
Unsur berkuda dipimpin Komandan Kavaleri Kolonel Taufik Dwinova. Pasukan ini mengerahkan sekitar 120 ekor kuda untuk mengiringi kirab pagi dan sore.
Investor Daily menyebut jumlah kuda dan formasi barisan tersebut memuat simbol tanggal serta bulan kemerdekaan, juga usia Republik Indonesia yang ke-81. Taufik menyiapkan pasukan agar dapat memberikan penampilan terbaik dan menumbuhkan kebanggaan masyarakat.
| Komponen | Jumlah atau Susunan | Fungsi dalam Kirab |
|---|---|---|
| Pasukan berkuda | Sekitar 120 ekor kuda | Mengiringi kirab pagi dan sore |
| Pasukan motoris | 45 personel, paruh lembing | Mengawal jalannya rangkaian |
| Paskibraka Nasional | Petugas upacara | Membawa bendera dan teks Proklamasi |
Kapten CPM (K) Vikita Putri memimpin kompi motoris dengan kekuatan 45 personel dalam formasi paruh lembing. Ia mengaku terharu dan bangga mendapat kepercayaan tersebut, yang juga diperkuat doa dari kedua anaknya.
Amanah Membawa Bendera dan Teks Proklamasi
Pada prosesi penurunan bendera, Bianca Alessia Christabella Lantang dari Sulawesi Utara dipercaya membawa teks Proklamasi. Ia memandang tugas tersebut harus dilaksanakan dengan kesungguhan dan rasa tanggung jawab.
Nindya Eltsani Fawwaz dari Jambi membawa duplikat Bendera Pusaka. Ia harus mengendalikan rasa deg-degan sambil menjaga bendera agar tidak jatuh, terkena angin, atau terlipat.
Maharazthu Rizqhy Ramadhana Chubuyana dari Nusa Tenggara Barat menjadi pengerek bendera Kelompok 8. Posisi itu membuatnya bahagia dan terharu karena dianggap sebagai impian banyak anggota Paskibraka laki-laki.
Atanasius Meyllano Frans Yogar dari Nusa Tenggara Timur menjalankan tugas sebagai Komandan Kelompok 8. Ia mengikuti seleksi dengan keyakinan dan komitmen untuk menjalankan amanah secara maksimal, sembari menyampaikan belasungkawa atas bencana gempa di daerahnya.
Neeltje Deliana Insjowi Werimon dari Papua bertugas sebagai pembawa baki saat penurunan bendera. Ia menyatakan kebahagiaannya dapat membawa nama baik Papua setelah pertama kali mengikuti Paskibra dan lolos ke tingkat nasional.
Perpaduan pasukan berkuda, motoris, dan Paskibraka menunjukkan bahwa kirab Bendera Pusaka dibangun melalui kerja kolektif. Setiap petugas mengemban peran tersendiri dalam penghormatan terhadap simbol negara pada peringatan kemerdekaan.






