Keterbatasan pilihan militer disebut turut mendorong Amerika Serikat mengandalkan sanksi untuk menekan Iran. Cadangan amunisi militer AS yang menipis menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan Washington di tengah konflik kawasan.
Presiden Donald Trump kemudian memilih mengalihkan fokus ke tekanan ekonomi pada Kamis, 13 Agustus 2026. Strategi itu diterapkan ketika Iran menghadapi inflasi besar, kesulitan keuangan, dan hambatan dalam mengapalkan minyak.
Sanksi Menjadi Instrumen Utama Washington
Trump menggambarkan langkah pemerintahannya sebagai pendekatan yang lebih tidak mencolok. Washington tetap membuka ruang negosiasi terbatas sambil memantau kondisi ekonomi yang sedang dialami Iran.
“Kami mengambil pendekatan yang lebih tidak mencolok (low-key). Kami hanya setengah bernegosiasi dengan mereka,” kata Trump.
Trump menyatakan pemerintahannya mengamati Iran yang sedang dilanda inflasi besar dan kekurangan uang. Ia juga menilai negara tersebut berada dalam kondisi keuangan yang sangat buruk.
“Iran bangkrut, benar-benar bangkrut, dan mereka tidak membayar tentaranya,” ujar Trump. Pernyataan itu menegaskan bahwa Washington melihat tekanan finansial sebagai bagian penting dari strateginya.
Blokade Pelabuhan Menambah Beban
Investor Daily melaporkan kebijakan AS berfokus pada dampak sanksi ekonomi, termasuk blokade terhadap pelabuhan utama Iran. Pembatasan ini menambah tekanan terhadap perekonomian Teheran yang sudah terganggu oleh sanksi.
Iran juga tidak dapat mengapalkan minyak dalam jumlah signifikan. Akses negara itu terhadap aset di luar negeri masih terbatas, sehingga ruang gerak ekonominya semakin sempit.
Tekanan terhadap sektor minyak dan aset luar negeri berhubungan langsung dengan kesulitan keuangan yang disoroti Trump. Namun, memburuknya ekonomi Iran belum menjamin adanya perubahan kebijakan politik secara segera.
Analis Meragukan Dampak Politik yang Cepat
Michael O’Hanlon dari Brookings Institution menilai para pemimpin Iran kemungkinan memedulikan kondisi ekonomi yang buruk. Meski demikian, ia menilai situasi tersebut tidak serta-merta membuat mereka mengubah kebijakan secara drastis.
“Iran berada dalam kondisi ekonomi yang buruk. Mereka tidak dapat mengapalkan minyak dalam jumlah signifikan, masih tertekan sanksi, dan tidak bisa mengakses aset mereka di luar negeri,” kata O’Hanlon.
Penilaian itu menunjukkan adanya jarak antara tekanan ekonomi dan hasil politik yang diharapkan Washington. Iran tetap dapat memilih mempertahankan sikapnya meski biaya ekonomi yang ditanggung meningkat.
Selat Hormuz Menjadi Latar Ketegangan
Tekanan ekonomi berlangsung ketika Iran memblokir jalur strategis Selat Hormuz. Amerika Serikat tetap mengklaim memegang kendali atas perairan tersebut meski ketegangan di jalur laut itu berlanjut.
Situasi di Selat Hormuz membuat konflik tidak hanya bergantung pada kebijakan sanksi. Jalur perairan strategis itu menjadi bagian dari persaingan pengaruh antara Washington dan Teheran.
Iran Menolak Narasi Washington
Pemerintah Iran menilai dorongan sanksi baru dari AS justru mencerminkan kegagalan diplomasi Washington. Esmaeil Baqaei, juru bicara Pemerintah Iran, menyebut langkah tersebut sebagai pengulangan strategi yang telah digunakan sebelumnya.
“Setiap kali Washington terbukti tidak mampu menjalankan diplomasi, mereka mundur ke langkah sanksi. Ketika sanksi itu gagal membuahkan hasil, mereka hanya menambah dosisnya,” kata Baqaei.
Baqaei menegaskan Iran siap menghadapi tekanan politik dan ekonomi dari Amerika Serikat. “Rakyat Iran telah membuktikan mereka adalah pemain catur profesional,” ujarnya.
Pilihan Washington untuk mengutamakan sanksi memperlihatkan perubahan penekanan dalam menghadapi Iran. Akan tetapi, kondisi ekonomi yang rapuh, ketegangan Selat Hormuz, dan respons politik Teheran membuat hasil strategi itu masih belum pasti.






