Sebanyak 1.300 petani lada putih Bangka Belitung telah masuk ke dalam holding UMKM klaster perkebunan. Penguatan di tingkat petani itu dilakukan saat komoditas tersebut mendapat peluang menuju jaringan restoran internasional di 63 negara.
Jaringan tersebut mencakup 1.200 restoran yang disebut memiliki kekurangan bumbu dan rempah-rempah. Kondisi itu membuka ruang pasar bagi muntok white pepper, sebutan internasional untuk lada putih asal Bangka.
Menyiapkan Pasokan dari Daerah
Pengembangan pasar tidak hanya diarahkan pada penjualan produk akhir, tetapi juga kesiapan pelaku usaha dan rantai pasok. Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah mendorong petani serta UMKM agar dapat memanfaatkan akses pasar yang sedang dibuka.
Pelaku usaha dan petani lada diminta mendaftarkan produknya melalui aplikasi SAPA UMKM. Sistem pelayanan digital ini menyediakan layanan terpadu yang dimulai dari verifikasi data sampai pemasaran produk ke pasar global.
Fitur layanan SAPA UMKM mencakup perizinan, pembiayaan, pembukuan digital, dan pelatihan bagi pelaku usaha. Dukungan tersebut menjadi bagian dari persiapan agar pelaku usaha dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar internasional.
Lada putih Bangka juga telah memiliki sertifikat resmi Indikasi Geografis atau IG. Pengakuan itu menegaskan identitas asal komoditas dari Kepulauan Bangka Belitung.
Permintaan Restoran Internasional
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman menyampaikan bahwa kerja sama dengan jaringan restoran telah dijalankan. Menurut dia, kebutuhan rempah dari jaringan tersebut dapat menjadi peluang bagi komoditas daerah.
“Kita sudah bekerja sama dengan 1.200 resto di 63 negara dan saat ini mereka kekurangan bumbu dan rempah-rempah,” kata Bagus di Pangkalpinang, Minggu (16/8/2026). Ia menyebut lada putih Bangka berpeluang masuk ke jaringan restoran itu.
Peluang tersebut memperluas arah pemasaran komoditas yang telah dikenal di pasar internasional sebagai muntok white pepper. Sertifikat IG dan penguatan petani diharapkan mendukung kesiapan produk ketika permintaan pasar meningkat.
Rekam Jejak Ekspor ke Sejumlah Negara
Perdagangan lada dari Bangka Belitung telah tercermin dalam nilai ekspor beberapa periode terakhir. Barantin mencatat pengiriman komoditas ini antara lain menuju Vietnam, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Taiwan.
| Periode | Nilai Ekspor Lada | Catatan |
|---|---|---|
| Sepanjang 2025 | Sekitar Rp180 miliar | Nilai ekspor tahunan |
| Hingga Juni 2026 | Sekitar Rp148,9 miliar | Nilai ekspor hingga semester pertama |
Nilai ekspor sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp180 miliar, sedangkan realisasi hingga Juni 2026 sekitar Rp148,9 miliar. Data tersebut menunjukkan aktivitas ekspor lada tetap berlangsung pada tahun berikutnya.
Plt Deputi Karantina Tumbuhan Barantin Dian SR Kusumastuti menyatakan tren ekspor komoditas itu positif. Pernyataan tersebut dikaitkan dengan permintaan pasar internasional yang meningkat.
Akses ke restoran internasional dapat melengkapi pasar ekspor yang telah dijangkau lada Bangka Belitung. Penguatan melalui klaster petani, layanan SAPA UMKM, dan sertifikat Indikasi Geografis disiapkan untuk menopang perluasan pemasaran komoditas ini.






