Suami Tak Bisa Bekerja, Mesin Jahit Bekas Membawa Utari Mengembangkan Usaha

Ketika suaminya tidak dapat lagi bekerja akibat kecelakaan, Utari mengandalkan keterampilan menjahit untuk menopang keluarga. Satu mesin jahit bekas seharga Rp1 juta kemudian menjadi awal usaha tas souvenir yang kini melibatkan empat penjahit.

Usaha yang dijalankan warga Panjang Jiwo, Surabaya, itu kini memberi ruang kerja bagi lima perempuan pencari nafkah keluarga. Perkembangan tersebut terjadi setelah Utari memulai kegiatan produksi dengan pembiayaan awal senilai Rp2 juta pada 2019.

Tekanan Ekonomi Mendorong Utari Memulai Usaha

Keluarga Utari menghadapi masa sulit saat suaminya mengalami cedera serius akibat kecelakaan. Kondisi itu bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia.

Dalam keadaan tersebut, Utari membutuhkan modal untuk membeli peralatan menjahit dan bahan produksi. Keterampilan menjahit menjadi pilihan yang paling dapat diandalkan untuk mencari nafkah.

Informasi mengenai PNM Mekaar ia peroleh dari tetangganya. “Waktu itu saya bingung mau pinjam modal kemana. Kemudian saya mendengar informasi tentang PNM Mekaar,” kata Utari.

Pembiayaan pertama yang diterimanya sebesar Rp2 juta. Ia menggunakan setengahnya untuk membeli mesin jahit bekas, sementara sisanya dipakai untuk kebutuhan bahan baku.

KomponenNilai atau KondisiKeterangan
Pembiayaan awalRp2 jutaDiterima Utari pada 2019
Mesin jahit bekasRp1 jutaDibeli dari dana pembiayaan awal
Pembiayaan tujuh tahun berselangRp8 jutaMendukung perkembangan usaha tas souvenir

Dari Produksi Rumahan ke Kesempatan Kerja

Pesanan tas souvenir yang dikelola Utari datang dari berbagai daerah. Seiring berkembangnya usaha, ia memperluas kapasitas produksi dengan mengajak empat penjahit dari sekitarnya.

Para penjahit tersebut juga menjadi penopang ekonomi bagi keluarga masing-masing. Dengan Utari, terdapat lima perempuan yang bekerja dalam usaha ini sebagai pencari nafkah.

Pembiayaan Utari berkembang dari Rp2 juta menjadi Rp8 juta dalam tujuh tahun. Perubahan nilai pembiayaan itu sejalan dengan kebutuhan usaha yang makin luas dan keterlibatan tenaga kerja tambahan.

Pendapatan dari usaha tas souvenir juga digunakan Utari untuk membiayai pendidikan kedua anaknya hingga lulus perguruan tinggi. Usaha tersebut menjadi penyangga keluarga di tengah perubahan kondisi ekonomi yang dialaminya.

Pelatihan Menjadi Bagian Pengembangan Usaha

Selain memperoleh pembiayaan, Utari mengikuti pelatihan pemasaran, penguatan produk, dan literasi digital. Pendampingan tersebut mendukung pengembangan usaha, bukan hanya menyediakan pinjaman untuk kebutuhan awal.

Direktur Utama PNM, Kindaris, menyatakan pertumbuhan pemberdayaan tidak hanya diukur berdasarkan angka. Ia menilai kesempatan bagi perempuan prasejahtera untuk membangun kehidupan keluarga juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

“Pertumbuhan bukan semata tentang angka, tetapi tentang semakin banyak perempuan prasejahtera yang memiliki kesempatan untuk bangkit, berusaha, dan memperbaiki kehidupan keluarganya,” ujar Kindaris. Ia menyebut pengalaman Utari memperlihatkan bahwa modal yang tepat dapat membuka peluang bagi orang lain di sekitarnya.

Konteks Perempuan sebagai Pencari Nafkah

Data BPS yang dikutip Suara.com menyatakan lebih dari 16% rumah tangga di Indonesia bergantung pada perempuan sebagai pencari nafkah utama. Kondisi tersebut memperlihatkan kebutuhan akan akses pembiayaan inklusif bagi perempuan yang menopang ekonomi keluarga.

PNM Mekaar hingga 2026 disebut telah melayani lebih dari 23 juta nasabah di 36 provinsi. Sebanyak 74% nasabah melaporkan peningkatan pendapatan, sedangkan 90% merasakan dampak kemandirian finansial setelah bergabung.

Utari menekankan pentingnya tetap berusaha, berdoa, dan mengelola keuangan secara baik bagi pelaku usaha. Pesan itu mencerminkan perjalanan dari mesin jahit bekas hingga usaha yang memberi kesempatan kerja kepada perempuan lain.

Baca Juga