Kurikulum Harus Berubah Lebih Dulu agar Buku Pelajaran Tak Gagal Dipakai di Kelas

Pembaruan buku pelajaran dinilai berisiko gagal menjawab kebutuhan kelas jika tidak didahului perubahan kurikulum. Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr Ana Taqwa Wati, menempatkan Kurikulum Pendidikan sebagai dasar untuk menentukan arah materi dan tingkat kesulitan buku.

Perkembangan teknologi dan arus informasi yang bergerak cepat telah mengubah kebutuhan belajar peserta didik. Karena itu, buku tidak cukup hanya diperbarui pada sisi isi atau tampilannya.

Perubahan Zaman Menuntut Arah Baru

Ana mengatakan pendidikan perlu merespons perubahan zaman melalui kurikulum yang relevan. Dalam pernyataannya yang dikutip Detikcom pada Kamis, 13 Agustus 2026, ia menyebut percepatan informasi saat ini berlangsung sangat tinggi.

Kurikulum yang diperbarui menjadi acuan untuk memilih materi, pendekatan pembelajaran, dan tingkat kesulitan bagi siswa. Tanpa acuan tersebut, perubahan Buku Pelajaran dapat berjalan tanpa arah yang jelas.

Namun, pembaruan tidak dapat diterapkan sekaligus dengan tuntutan standar yang terlalu tinggi. Ana mengingatkan bahwa perbedaan kemampuan awal siswa di Indonesia perlu menjadi pertimbangan utama dalam menyusun standar nasional.

Jangan Memaksa Siswa Melompat Terlalu Jauh

Mayoritas kualitas siswa di Indonesia, menurut Ana, masih berada pada tingkat rendah. Ketika lebih dari 50 persen siswa berada pada level tersebut, materi dengan standar tinggi akan sulit diterapkan secara merata.

Ia menilai perbaikan bahan ajar perlu dijalankan tahap demi tahap. “Kalau kita memang ingin memperbaiki, harus dilakukan step by step. Tidak bisa langsung dipaksakan pada standar yang tinggi,” kata Ana.

Sekolah di berbagai wilayah memiliki kondisi belajar yang tidak sama. Oleh sebab itu, pemetaan kebutuhan siswa perlu dilakukan agar materi yang disusun tidak jauh dari realitas pembelajaran di kelas.

Pemetaan tidak hanya berkaitan dengan isi buku, melainkan juga situasi yang memengaruhi proses belajar siswa. Hasilnya dapat membantu menentukan bentuk Buku Pelajaran yang lebih sesuai untuk diterapkan secara luas.

Validasi Bersama Guru dan Ahli Pendidikan

Ana menyarankan hasil pemetaan kebutuhan siswa divalidasi oleh ahli pendidikan dan guru. Keterlibatan guru penting karena mereka memahami praktik pembelajaran sehari-hari dan berhubungan langsung dengan peserta didik.

Guru juga berperan menentukan efektivitas buku ketika digunakan di kelas. Karena itu, pembaruan bahan ajar harus beriringan dengan peningkatan Kompetensi Guru di berbagai daerah.

Pemerataan mutu tenaga pendidik perlu diperhatikan agar manfaat buku baru tidak hanya terasa di kota besar. Daerah terdepan, terluar, dan tertinggal juga membutuhkan pengajar dengan kemampuan yang memadai.

Buku yang disusun dengan baik tidak akan memberikan hasil maksimal jika guru belum siap memanfaatkannya. Penguatan kemampuan guru menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan mutu pembelajaran.

Evaluasi Tidak Boleh Berhenti pada Tampilan

Ana mendorong evaluasi dilakukan sekitar satu hingga dua tahun setelah buku diterapkan. Evaluasi perlu melihat apakah penggunaan buku membawa pengaruh terhadap pemahaman siswa dan perubahan dalam proses belajar.

Penilaian tidak cukup dilakukan dengan melihat mutu materi atau desain buku. “Jadi, bukan hanya melihat bukunya sudah bagus atau belum, tetapi juga bagaimana dampak dari buku tersebut,” ujar Ana.

Penerapan bertahap, kesiapan guru, dan evaluasi berkala dapat membuat pembaruan Buku Pelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan sekolah. Pendekatan itu juga menjaga agar perubahan bahan ajar tidak memperlebar kesenjangan kemampuan siswa antarwilayah.

Baca Juga