Iran membantah keras pernyataan Donald Trump bahwa Amerika Serikat memegang kendali blokade di Selat Hormuz. Komando Pusat Militer Iran menyebut narasi penguasaan jalur tersebut sebagai kebohongan dan rekayasa tanpa dasar.
Pernyataan yang saling bertentangan itu muncul ketika kebebasan navigasi di Selat Hormuz masih menjadi sengketa utama. Ketidakpastian di jalur strategis minyak dunia juga terlihat dari penurunan tajam jumlah kapal yang melintas.
Menurut data Kpler yang dikutip CNN internasional, 3.371 kapal melewati Selat Hormuz selama 166 hari hingga 12 Agustus 2026. Volume itu hanya sekitar 20 persen dari tingkat normal sebelum konflik pecah.
Penurunan tersebut memperlihatkan tekanan konflik terhadap pelayaran tidak berhenti pada retorika politik. Gangguan di kawasan ini berisiko mengusik stabilitas energi dan ekonomi global karena Selat Hormuz menjadi rute penting perdagangan minyak.
Pernyataan Trump di New York
Trump melontarkan pernyataan mengenai Selat Hormuz dalam pidato di New York pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Ia menyebut akan menyatakan selat itu sebagai wilayah Amerika Serikat setelah Iran dikalahkan.
“Setelah kami selesai mengalahkan Iran, yang saat ini sedang dikalahkan dengan sangat parah, sebentar lagi saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” kata Trump sambil tertawa kecil. Seorang pejabat senior Gedung Putih yang dikutip Investor Daily menyatakan Trump belum membahas rencana itu secara resmi dengan para penasihatnya.
Klarifikasi dari pejabat Gedung Putih menyebut ucapan tersebut sebagai candaan. Namun, Trump tetap menyampaikan klaim lain yang berkaitan dengan pengendalian akses laut.
“Kami yang memegang kendali blokade. Tidak ada kapal yang bisa lewat kecuali kami mengizinkannya,” ujar Trump. Iran segera membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa narasi kontrol AS tidak berdasar.
| Periode | Situasi yang Terjadi |
|---|---|
| April 2026 | Pakistan memediasi gencatan senjata. |
| Juni 2026 | Tercapai kesepakatan awal negosiasi perdamaian. |
| Juli 2026 | Bentrokan militer kembali pecah. |
| Hingga 12 Agustus 2026 | 3.371 kapal melintas dalam 166 hari. |
Sengketa Navigasi Menggagalkan Diplomasi
Ketegangan saat ini terjadi setelah upaya diplomasi gagal mempertahankan momentum perdamaian. Pada April 2026, Pakistan memediasi gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai.
Kesepakatan awal untuk negosiasi perdamaian kemudian dicapai pada Juni 2026. Namun, perselisihan mengenai keamanan dan kebebasan navigasi membuat proses itu gagal.
Bentrokan militer kembali berlangsung pada Juli. Dalam rangkaian eskalasi itu, militer AS menyerang sejumlah target di Iran melalui operasi udara.
Iran membalas dengan serangan terhadap fasilitas militer AS di sejumlah negara Arab. Yordania, Bahrain, dan Kuwait termasuk negara yang disebut menjadi lokasi fasilitas tersebut.
Perkembangan ini menjadikan Selat Hormuz pusat perhatian internasional, baik dari sisi keamanan maupun pasokan energi. Selama konflik AS-Israel dan Iran berlanjut, arus pelayaran di jalur tersebut tetap menghadapi risiko gangguan.
Data kapal yang turun hingga sekitar 80 persen dari kondisi normal menegaskan besarnya dampak ketegangan itu. Sengketa atas penguasaan dan kebebasan navigasi masih menjadi hambatan utama bagi pemulihan situasi di Selat Hormuz.






