Saat AS Klaim Kuasai Perairan, Blokade Hormuz Menekan Lalu Lintas Kapal 90 Persen

Klaim Amerika Serikat bahwa perairan Selat Hormuz berada dalam kendali penuh berhadapan dengan kondisi pelayaran yang menyusut drastis. Dalam lima hari terakhir, rata-rata kapal yang melintas hanya mencapai 13 unit per hari.

Data Kpler menunjukkan jumlah itu anjlok 90 persen dari rata-rata 130 kapal kargo dan tanker minyak per hari sebelum eskalasi militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Aktivitas pelayaran di jalur tersebut pun berada di titik terendah dalam hampir tiga bulan.

IndikatorSebelum 28 Februari 2026Lima Hari TerakhirPerubahan
Rata-rata transit harian130 kapal13 kapalTurun 90 persen
Jenis armadaKargo dan tanker minyakKargo dan tanker minyakPergerakan terbatas

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyampaikan melalui Truth Social bahwa Washington telah menguasai wilayah perairan strategis itu. Namun, Otoritas Teluk Selat Persia Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz belum berakhir.

Melalui unggahan di X, otoritas tersebut mengatakan, “Klaim dan unggahan berulang dari pejabat AS yang menyebut Selat Hormuz tidak lagi diblokir tidak mengubah kenyataan Selat Hormuz tetap diblokir dan tidak akan dibuka kembali sampai syarat-syarat Iran diterima.” Pernyataan itu mempertegas perbedaan posisi antara Teheran dan Washington.

Blokade Terhubung dengan Tuntutan Politik

Iran tidak hanya menjadikan keamanan pelayaran sebagai dasar penutupan selat. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengajukan serangkaian syarat yang harus dipenuhi sebelum jalur laut dibuka kembali.

Syarat itu meliputi penghentian blokade laut AS, pencabutan sanksi ekonomi, penarikan pasukan militer AS, dan pembayaran ganti rugi perang. Posisi tersebut membuat status jalur pelayaran bergantung pada perkembangan ketegangan yang lebih luas.

Investor Daily melaporkan pada Kamis, 13 Agustus 2026, bahwa ketegangan kawasan masih meningkat. Saling bantah mengenai status selat terjadi ketika arus kapal belum menunjukkan pemulihan berarti.

Risiko bagi Energi Dunia

Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 21 mil laut dan berfungsi sebagai jalur utama perdagangan energi. Sekitar sepertiga pasokan minyak mentah dunia yang diangkut melalui laut melewati kawasan tersebut.

Hambatan berkepanjangan terhadap pengiriman minyak dapat mengganggu kelancaran distribusi minyak mentah global. Situasi itu berpotensi memicu kenaikan harga minyak serta meningkatkan risiko krisis energi dunia.

Penasihat Senior Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Mohammad Reza Naqdi, menilai militer AS mengalami kebingungan strategi. Ia menyoroti perubahan tujuan konflik secara berulang yang dinilainya memengaruhi langkah Washington.

Naqdi mengatakan Iran menjalankan strategi pembentukan daya tangkal dengan memperpanjang durasi konflik. Menurutnya, strategi itu ditujukan untuk mendorong penyusutan sumber daya pihak lawan.

Perbedaan antara klaim penguasaan perairan dan data lalu lintas kapal memperlihatkan ketidakpastian yang masih kuat di Selat Hormuz. Selama Iran mempertahankan syarat pembukaan selat, jalur penting bagi energi dunia itu tetap berada dalam tekanan.

Baca Juga