Philips menempatkan program SIHREN sebagai upaya memperluas akses layanan jantung dan stroke di daerah, bukan sekadar proyek pemasangan alat kesehatan. Di tengah kondisi banyak pasien di Indonesia yang masih harus dirujuk jauh ke kota besar, pendekatan ini dinilai penting karena penanganan serangan jantung dan stroke sangat bergantung pada kecepatan.
Dalam kasus jantung, keterlambatan beberapa menit saja dapat memengaruhi hasil akhir pasien. Atul Gupta, MD, Global Chief Medical Officer for Diagnosis & Treatment Philips, menegaskan bahwa untuk jantung, time is heart, sehingga penanganan ideal perlu dilakukan dalam 90 menit sejak serangan terjadi.
Teknologi cath lab untuk mendekatkan layanan
Program Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network atau SIHREN merupakan bagian dari proyek Indonesia Health System Strengthening Kementerian Kesehatan. Melalui program ini, pemerintah menghadirkan fasilitas catheterization laboratory atau cath lab di berbagai daerah, sementara Philips memasok teknologi image-guided therapy yang memanfaatkan pencitraan real-time.
Teknologi itu dirancang untuk membantu dokter melakukan tindakan minimal invasif dengan lebih presisi. Bert van Meuers, Executive Vice President sekaligus Chief Business Leader Image Guided Therapy Philips, mengatakan fokus perusahaan bukan semata pada kontrak komersial, melainkan pada kerja sama untuk menghadirkan perawatan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia.
Pelatihan dokter menjadi bagian penting
Philips juga terlibat dalam pembangunan kapasitas sumber daya manusia agar fasilitas yang sudah dipasang benar-benar bisa digunakan optimal. Dukungan yang diberikan mencakup pelatihan dokter, pendampingan klinis, pembelajaran jarak jauh, hingga pembangunan jejaring antarrumah sakit.
Menurut Atul Gupta, teknologi yang canggih tidak akan berjalan baik tanpa operator terlatih. Ia menekankan bahwa SIHREN bukan hanya tentang alat, melainkan tentang peningkatan kapasitas tenaga medis di lapangan.
| Fokus SIHREN | Bentuk Dukungan Philips | Dampak yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Fasilitas cath lab | Teknologi image-guided therapy | Tindakan minimal invasif lebih mudah dilakukan |
| Sumber daya manusia | Pelatihan, pendampingan klinis, pembelajaran jarak jauh | Dokter lebih siap mengoperasikan sistem |
| Jaringan layanan | Jejaring antarrumah sakit | Akses pasien ke layanan lebih merata |
AI dipakai sebagai asisten, bukan pengganti dokter
Selain pada terapi intervensi, Philips juga mengintegrasikan kecerdasan buatan atau AI ke berbagai perangkat medis, termasuk sistem pencitraan diagnostik. Perusahaan menempatkan AI sebagai alat bantu untuk mempercepat pemeriksaan, meningkatkan kualitas citra medis, dan membantu mengidentifikasi kelainan.
Atul menjelaskan bahwa AI bahkan dapat berperan sebagai co-pilot saat tindakan penggantian katup jantung secara minimal invasif. Di masa depan, teknologi ini juga diproyeksikan mampu membantu memprediksi risiko penyakit sebelum gejala muncul, namun tetap dengan posisi sebagai pendamping dokter.
Jarak dan waktu masih menjadi tantangan utama
Masalah terbesar yang ingin dijawab SIHREN adalah kesenjangan akses layanan. Banyak pasien masih harus menempuh perjalanan panjang ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap, padahal pada serangan jantung dan stroke, setiap menit sangat menentukan.
Atul menyoroti stroke sebagai kondisi yang sangat sensitif terhadap waktu karena setiap menit dapat berarti hilangnya sekitar dua juta neuron. Karena itu, pemerataan layanan ke rumah sakit daerah dipandang penting agar pasien tidak kehilangan waktu berharga hanya untuk berpindah ke fasilitas yang lebih jauh.
Philips menyebut keterlibatannya di Indonesia sebagai komitmen jangka panjang. Arah utamanya tetap sama, yakni memastikan inovasi kesehatan tidak berhenti pada pemasangan perangkat, tetapi benar-benar menghadirkan perawatan yang lebih baik untuk lebih banyak orang.






