Rumah dinas Menteri Luar Negeri Sugiono menjadi lokasi pertemuan 12 sekretaris jenderal partai politik pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Jamuan makan malam itu digelar di kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, pada Kamis malam, 13 Agustus 2026.
Pertemuan berlangsung menjelang Sidang Tahunan MPR 2026 dan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Meski bersifat informal, konsolidasi tersebut dinilai dapat berkaitan dengan kebutuhan menyamakan sikap dalam menghadapi agenda pemerintah di parlemen.
Sugiono, yang juga Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, menyebut acara tersebut sebagai silaturahmi kebangsaan. Ia mengatakan pertemuan itu berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan menjadi kesempatan yang sebelumnya belum terlaksana bagi pimpinan partai pendukung pemerintah.
Potensi Pembahasan APBN
Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Utut Adianto memperkirakan pertemuan itu dapat terkait dengan agenda parlemen. Ia menyinggung kebutuhan kekuatan politik pendukung pemerintah untuk membangun satu visi menghadapi RAPBN 2027 dan nota keuangan.
“Mereka bersatu, mungkin mau satu visi menghadapi APBN, mau satu visi dalam nota keuangan,” ujar Utut. Pernyataan itu disampaikan di gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Utut tidak melihat pertemuan antarsekjen sebagai hal yang luar biasa dalam politik. Ia menilai komunikasi dan pertemuan antarpihak merupakan bagian yang wajar dari dinamika politik.
“Kalau saya nggak bisa berkomentar, karena ini yang harusnya nanyanya ke Pak Hasto. Tetapi, kalau saya melihat, orang bertemu itu bagian dari part of the game kan, wajar… wajar,” kata Utut. Tidak ada pernyataan mengenai keputusan atau kesepakatan politik yang diumumkan dari pertemuan tersebut.
12 Partai Hadir
Peserta jamuan berasal dari Partai Gerindra, Golkar, PKB, Demokrat, PAN, PKS, NasDem, PSI, Gelora, PBB, Garuda, dan Prima. Sekretaris jenderal PPP berhalangan hadir.
Kehadiran para pengurus pusat itu menyatukan sejumlah kekuatan politik pendukung pemerintah dalam satu forum. Pertemuan tersebut berlangsung saat perhatian publik juga tertuju pada agenda Sidang Tahunan MPR dan peringatan kemerdekaan.
Refleksi Perjalanan Koalisi
Sugiono menyatakan pertemuan itu menjadi ruang untuk meninjau perjalanan koalisi selama hampir dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Ia menekankan bahwa pembangunan nasional memerlukan sinergi dan kolaborasi yang berkesinambungan.
“Ada masalah yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Karena itu, memperbaikinya juga membutuhkan waktu, kesinambungan, dan kerja bersama,” ujar Sugiono. Ia menempatkan kerja sama politik sebagai unsur penting dalam upaya menangani persoalan yang telah berlangsung lama.
Menurut Sugiono, peringatan kemerdekaan juga menjadi pengingat atas dasar pembentukan Indonesia. “Menyambut Hari Kemerdekaan, kita perlu mengingat kembali bahwa Indonesia dibangun melalui persatuan, pengorbanan, dan gotong royong,” katanya.
Dengan belum adanya rincian hasil pertemuan, pembahasan mengenai agenda parlemen menjadi salah satu konteks yang paling disorot. Konsolidasi 12 sekjen itu berlangsung sebelum rangkaian agenda kenegaraan dan pembahasan fiskal yang disebut Utut.






