Kabupaten Ngada mencatat 1.796 rumah terdampak gempa M7,7 di Nusa Tenggara Timur, tertinggi di antara tujuh kabupaten yang masuk pendataan. Namun, tingkat kerusakan setiap bangunan di wilayah tersebut masih dalam proses verifikasi.
Belum rincinya data Ngada membuat skala akhir kerusakan bangunan pascagempa belum sepenuhnya tergambar. BNPB mencatat sedikitnya 4.541 rumah terdampak secara keseluruhan hingga pembaruan Senin (17/8).
Data Terperinci Baru Mencakup 2.745 Rumah
Dari total tersebut, 2.745 rumah telah memiliki kategori rusak berat, sedang, atau ringan. Rincian itu berasal dari enam kabupaten lain di luar Ngada.
Manggarai menjadi wilayah dengan kerusakan berat paling banyak dalam data yang sudah tersedia. Sebanyak 761 rumah di kabupaten itu mengalami kerusakan berat dari total 984 rumah terdampak.
Manggarai Barat melaporkan 914 rumah terdampak, terdiri atas 481 rusak berat, 202 rusak sedang, dan 231 rusak ringan. Angka itu menempatkan Manggarai Barat sebagai daerah dengan total dampak terbesar kedua setelah Manggarai di antara enam kabupaten yang telah dirinci.
Ende mencatat 461 rumah terdampak dengan kerusakan ringan paling banyak dalam kelompok datanya, yaitu 268 unit. Sebanyak 108 rumah di Ende rusak berat dan 85 unit rusak sedang.
Peta Kerusakan di Tujuh Kabupaten
| Kabupaten | Rusak Berat | Rusak Sedang | Rusak Ringan atau Status |
|---|---|---|---|
| Ngada | – | – | 1.796 terdampak, masih diverifikasi |
| Manggarai | 761 | 76 | 147 ringan |
| Manggarai Barat | 481 | 202 | 231 ringan |
| Ende | 108 | 85 | 268 ringan |
| Sikka | 145 | 16 | 12 ringan |
| Nagekeo | 116 | 6 | 42 ringan |
| Manggarai Timur | 23 | 15 | 11 ringan |
Kabupaten Sikka melaporkan 173 rumah terdampak, dengan 145 unit masuk kategori rusak berat. Nagekeo mencatat 164 rumah terdampak dan 116 di antaranya mengalami kerusakan berat.
Manggarai Timur melaporkan 49 rumah terdampak, termasuk 23 rumah rusak berat. Perbedaan tingkat kerusakan antarwilayah menunjukkan dampak gempa tidak tersebar secara merata.
Korban Jiwa dan Kerusakan Fasilitas Umum
Gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) itu juga menyebabkan lebih dari 60 warga meninggal dunia. Selain rumah, kerusakan dilaporkan terjadi pada tempat ibadah, fasilitas kesehatan, pendidikan, perkantoran, dan akses jalan.
BNPB masih melanjutkan pendataan untuk melengkapi gambaran dampak bangunan di wilayah terdampak. Verifikasi di Ngada menjadi salah satu pekerjaan utama karena jumlah rumah terdampaknya paling besar.
Aktivitas Gempa Belum Sepenuhnya Reda
Pos Pendamping Nasional mencatat 1.576 gempa susulan NTT hingga 17 Agustus, dengan magnitudo terbesar 6,2. BMKG menyebut 54 kejadian di antaranya dirasakan warga.
Menurut data yang dikutip CNBC Indonesia, Basarnas pada hari ketiga pascagempa tidak lagi menerima laporan orang hilang. Meski demikian, BNPB menyatakan aktivitas gempa masih berfluktuasi dan pola peluruhannya belum terlihat jelas.
BNPB memperkirakan kondisi mulai stabil dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Selama periode tersebut, pembaruan data rumah rusak dan fasilitas umum tetap diperlukan untuk memetakan dampak gempa M7,7 NTT secara lebih lengkap.






