Koalisi masyarakat sipil mendukung sikap pemerintah yang disebut tidak menyiapkan insentif untuk kendaraan hibrida. Anggaran negara dinilai lebih tepat diarahkan untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik murni atau BEV.
Pandangan tersebut menempatkan kebijakan insentif sebagai penentu arah transisi transportasi Indonesia. Koalisi meminta Gaikindo mendorong industri otomotif memusatkan investasi dan penjualan pada BEV, bukan teknologi hibrida.
Anggaran Negara dan Ketergantungan BBM
Outreach and Advocacy Manager CERAH Bondan Andriyanu menilai insentif perlu dipakai untuk mendorong perubahan yang menyeluruh. Menurutnya, kendaraan hibrida masih mempertahankan penggunaan bahan bakar minyak impor.
“Uang negara tidak boleh dialokasikan untuk memfasilitasi teknologi setengah-setengah seperti hibrida yang masih bergantung pada BBM impor,” kata Bondan. Pernyataan itu disampaikan dalam konteks desakan agar industri mempercepat adopsi teknologi yang lebih bersih.
Koalisi menyebut pemerintah semakin mengarahkan insentif kendaraan listrik kepada BEV dengan basis komponen dalam negeri. Kebijakan itu dipandang selaras dengan kebutuhan membangun industri dan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Produsen Diminta Menyiapkan Ekosistem
Fokus terhadap BEV, menurut koalisi, tidak cukup diwujudkan melalui penambahan unit kendaraan di pasar. Produsen otomotif juga diminta membangun sarana pengisian daya dan fasilitas penunjang penggunaan kendaraan listrik.
Bondan menyatakan tanggung jawab produsen tidak berakhir pada tahap produksi serta penjualan. Dalam keterangan tertulis pada Rabu (12/8/2026), ia meminta industri mengambil peran lebih besar agar transisi transportasi bersih benar-benar berjalan.
Ketersediaan infrastruktur dipandang sebagai unsur penting agar masyarakat dapat menggunakan kendaraan listrik secara lebih luas. Tanpa ekosistem yang memadai, peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil dikhawatirkan berjalan terbatas.
| Indikator | Catatan | Periode | Sumber yang Dikutip |
|---|---|---|---|
| Pertumbuhan pasar EV nasional | 69,4% | Semester I/2026 | Kementerian Perdagangan |
| Kualitas udara bersih Jakarta | Sekitar 2% hari | Sepanjang 2025 | Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta |
Pasar Elektrifikasi Terus Bertumbuh
Tuntutan tersebut datang ketika pasar EV nasional tumbuh pesat. Data Kementerian Perdagangan yang dikutip koalisi mencatat kenaikan 69,4% pada semester I/2026.
Otomotif.bisnis.com melaporkan sekitar seperempat mobil baru di Indonesia telah menggunakan teknologi yang dikategorikan ramah lingkungan. Koalisi menilai pertumbuhan itu perlu menjadi pijakan untuk membuat arah pasar semakin condong kepada BEV.
Peralihan teknologi dipandang tidak semata berkaitan dengan pilihan kendaraan baru. Koalisi menilai investasi industri perlu mencakup pengembangan ekosistem energi dan transportasi untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi berbasis fosil.
Masalah Udara Perkotaan
Desakan memperluas penggunaan BEV juga berkaitan dengan kondisi udara perkotaan, khususnya Jakarta. Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang dikutip koalisi menunjukkan hanya sekitar 2% hari sepanjang 2025 memiliki kualitas udara bersih.
Juru Kampanye Satya Bumi Dhany Al Falah mengatakan fasilitasi kendaraan hibrida hanya akan memperpanjang krisis kualitas udara. Ia menilai peralihan penuh ke BEV yang berbasis energi bersih diperlukan untuk menurunkan polusi dalam jangka panjang.
Koalisi mengutip laporan IPCC yang menempatkan BEV sebagai salah satu solusi paling efektif untuk mengurangi emisi transportasi. Dampak positifnya dinilai dapat semakin kuat seiring peningkatan bauran energi terbarukan dalam jaringan listrik nasional.
Manager Komunikasi dan Kampanye Koaksi Indonesia Fitrianti Sofyan menyatakan elektrifikasi transportasi dapat menjadi momentum bagi pengembangan energi terbarukan. “Ketika bauran energi terbarukan masuk ke jaringan listrik nasional, keunggulan BEV kian mutlak,” kata Fitrianti.






