Kemarau yang meluas di Indonesia tidak sepenuhnya menghilangkan potensi hujan lebat. Pada 24-27 Juli 2026, hujan sangat lebat masih tercatat di sejumlah wilayah ketika sebagian besar Zona Musim telah memasuki periode kering.
Sumatera Utara mencatat curah hujan 128 mm per hari, disusul Sumatera Barat 116 mm per hari. Kalimantan Utara mencapai 88 mm per hari, Papua 87 mm per hari, dan Aceh 65 mm per hari.
| Wilayah | Curah Hujan | Periode |
|---|---|---|
| Sumatera Utara | 128 mm per hari | 24-27 Juli 2026 |
| Sumatera Barat | 116 mm per hari | 24-27 Juli 2026 |
| Kalimantan Utara | 88 mm per hari | 24-27 Juli 2026 |
| Papua | 87 mm per hari | 24-27 Juli 2026 |
BMKG menyebut Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, Madden-Julian Oscillation, serta Siklon Tropis Noul di Laut Filipina mendukung pasokan uap air dan pembentukan awan hujan. Angin permukaan yang berpotensi melampaui 20 knot juga dapat memicu pohon tumbang dan kerusakan ringan pada bangunan.
Warga di wilayah yang berpeluang mengalami cuaca signifikan perlu memantau peringatan dini. Saat angin kencang, masyarakat dianjurkan menghindari pohon, baliho, dan bangunan rapuh.
Kondisi Kering Tetap Lebih Dominan
Di sisi lain, 509 Zona Musim atau 72,8% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada Dasarian II Juli 2026. Curah hujan rendah mendominasi 92,93% wilayah, sedangkan sifat hujan bawah normal terjadi di sekitar 89,97% wilayah.
Curah hujan menengah hanya tercatat di 6,63% wilayah, sementara curah hujan tinggi berada pada 0,45% wilayah. Data itu menunjukkan kondisi kering tetap menjadi gambaran utama meski hujan deras lokal masih dapat muncul.
Kekeringan dilaporkan terjadi di Jawa Tengah pada 24-27 Juli 2026. Pada periode yang sama, kebakaran hutan dan lahan tercatat di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, serta Sulawesi Selatan.
Masyarakat diminta menghemat penggunaan air dan tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan. Langkah pencegahan diperlukan untuk menjaga sumber air serta membatasi kemunculan titik api di lahan yang rentan terbakar.
Puncak El Nino Diperkirakan Agustus
Risiko kondisi kering dapat bertambah karena El Nino 2026 dinilai berkembang lebih cepat dibandingkan kejadian 2023. Prof Dr Erma Yulihastin, pakar klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, memperkirakan puncaknya terjadi pada Agustus 2026.
Dalam unggahan akun X pada 24 Juli 2026, Erma menyebut pembaruan hingga 19 Juli menunjukkan indeks El Nino mencapai 1,74 derajat Celsius. Nilai tersebut masuk kategori kuat dan disebut telah melampaui puncak El Nino 2023.
Erma menyatakan, “Sudah dapat dipastikan El Nino 2026 akan jauh lebih kuat dibandingkan 2023, begitu pula dampak yang ditimbulkannya.” Istilah Super El Nino sendiri merupakan sebutan umum bagi El Nino yang sangat kuat, bukan kategori ilmiah resmi.
NOAA memperkirakan kondisi El Nino dapat menguat pada akhir 2026 dan bertahan hingga awal 2027. Peluang fenomena itu berlangsung sampai awal musim semi 2027 disebut mencapai 97%.
El Nino dapat memengaruhi pola hujan secara berbeda antarwilayah, bergantung pada kekuatan fenomena dan respons atmosfer regional. Karena itu, kewaspadaan terhadap kekeringan dan hujan ekstrem lokal perlu berjalan bersamaan.






