Gotong royong warga Dusun Grumbulgede turut mengantarkan rumah Kroniah menjadi hunian permanen yang lebih aman dan sehat. Pengerjaan renovasi berlangsung selama tiga bulan melalui program Rumah Layak Huni InJourney Destination Management.
Bangunan yang telah selesai dipugar itu diserahkan langsung kepada Kroniah pada Senin siang. Renovasi tersebut menjadi rumah ke-56 yang dituntaskan IDM dalam program bantuan hunian bagi warga kurang mampu.
Keterlibatan masyarakat sekitar menjadi bagian penting dalam penyelesaian pembangunan rumah di Kalurahan Selomartani, Kalasan, Sleman, itu. Semangat bahu-membahu dinilai turut memperkuat solidaritas sosial di lingkungan penerima bantuan.
Dari Gedhek ke Bangunan Permanen
Sebelum direnovasi, rumah Kroniah berukuran 6 x 7 meter dan masih berupa bangunan nonpermanen. Dinding rumah menggunakan anyaman bambu atau gedhek, sedangkan lantainya hanya berupa plester sederhana.
Kondisi genteng yang telah lapuk turut menggambarkan keterbatasan bangunan lama tersebut. Rumah itu juga belum mempunyai pembagian kamar tidur dan fasilitas sanitasi yang memadai.
| Aspek | Sebelum Pugar | Setelah Pugar |
|---|---|---|
| Status hunian | Bangunan nonpermanen | Hunian permanen |
| Lantai | Plester sederhana | Keramik |
| Ruang keluarga | Belum ada pembagian kamar | Dua kamar tidur dan ruang keluarga |
| Sanitasi | Belum memadai | Kamar mandi layak dan dapur bersih |
Setelah renovasi, rumah tersebut dilengkapi dua kamar tidur dan ruang keluarga untuk menunjang kebutuhan penghuninya. Dapur bersih serta kamar mandi layak juga disediakan agar keluarga memiliki lingkungan tinggal yang lebih sehat.
Momentum Kemerdekaan dan Program Sosial
Penyerahan rumah purna pugar dilakukan dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Momentum ini dimanfaatkan IDM untuk memperluas dampak sosial dari pengelolaan kawasan wisata.
Program Rumah Layak Huni merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan perusahaan. Sejak 2016, program ini telah menjangkau 56 unit rumah warga kurang mampu di sekitar kawasan Candi Prambanan dan Candi Borobudur.
Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, menyatakan pengelolaan destinasi tidak boleh hanya menitikberatkan pada pengalaman wisatawan. Keberadaan Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, menurutnya, harus memberi manfaat sosial serta ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Keberadaan kami di sini tidak hanya sekadar mengelola sebuah destinasi, tapi yang terpenting adalah bagaimana keberadaan Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko atau IDM itu dapat memberikan manfaat, terutama bagi masyarakat di sekitar, baik manfaat sosial maupun manfaat ekonomi,” ujar Febrina Intan.
Program Diharapkan Berlanjut
Kepala Jawatan Praja Kantor Panewu Kalasan, Sidi Nugroho, mengapresiasi bantuan yang diterima Kroniah dan peran warga dalam proses pembangunannya. Ia berharap program serupa dapat terus menyasar masyarakat yang membutuhkan rumah layak.
Menurut Sidi, keberlanjutan program akan memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar. IDM juga menegaskan bahwa dampak sosial yang berkelanjutan perlu menjadi bagian dari pengelolaan destinasi, termasuk dalam menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi penerima bantuan.






