Pemerintah merancang Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa bukan hanya sebagai penghalang banjir rob. Infrastruktur tersebut juga diproyeksikan mendukung penyediaan air bersih, membuka jalur pertumbuhan ekonomi baru, dan menjadi sarana rekayasa teknologi nasional.
Rencana ini memiliki cakupan besar karena akan membentang dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur. Presiden Prabowo Subianto menempatkannya sebagai proyek jangka panjang untuk melindungi puluhan juta warga pesisir sekaligus menopang kawasan industri Pantura.
Pembiayaan dan Teknologi Menjadi Kebutuhan Utama
Pembangunan tanggul laut raksasa akan memerlukan dukungan pembiayaan selama masa konstruksi. Pemerintah merencanakan keterlibatan Danantara, terutama melalui Danantara Development and Management Fund atau DDMF.
Pengembangan teknologi juga menjadi bagian dari rancangan proyek tersebut. Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN dilibatkan untuk mendukung terobosan rekayasa dan inovasi yang dibutuhkan sepanjang pelaksanaan pembangunan.
Fungsi yang lebih luas itu membedakan proyek ini dari tanggul yang semata-mata menahan air laut. Pemerintah menghubungkan perlindungan pesisir dengan kebutuhan air bersih, pengembangan ekonomi, dan penguatan kapasitas teknologi nasional.
Proyek Dibagi dalam 15 Segmen
Pembangunan fisik Giant Sea Wall direncanakan melalui 15 segmen dari Banten sampai Gresik. Pembagian pekerjaan tersebut memungkinkan beberapa segmen dibangun serentak sehingga pengerjaan berpeluang berlangsung lebih cepat.
| Aspek Proyek | Rincian |
|---|---|
| Lintasan pembangunan | Banten hingga Gresik, Jawa Timur |
| Skema pengerjaan | 15 segmen |
| Estimasi waktu | 15 hingga 20 tahun |
| Tujuan perlindungan | Warga pesisir dan kawasan industri |
Meski terdapat peluang pekerjaan simultan, pemerintah memperkirakan keseluruhan proyek membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 tahun. Durasi itu membuat penyelesaian pembangunan berpotensi melewati masa jabatan pemerintahan saat ini.
Prabowo menyatakan tetap bertekad memulai proyek tersebut pada masa pemerintahannya. Komitmen itu disampaikan saat Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN TA 2027 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Mitigasi Sebelum Risiko Membesar
Pantai Utara Jawa menghadapi ancaman banjir rob dan penurunan permukaan tanah. Kondisi itu menjadi dasar pemerintah untuk menempatkan Giant Sea Wall sebagai perlindungan jangka panjang bagi masyarakat pesisir.
Kawasan yang akan dilintasi proyek juga memiliki peran besar bagi industri Indonesia. Gangguan di pesisir Pantura dapat berdampak pada permukiman dan aktivitas ekonomi yang terkonsentrasi dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
“Proyek ini akan butuh 15 hingga 20 tahun untuk kita menyelesaikan pembangunan Giant Sea Wall. Ini waktu yang lama, saya tidak tahu presiden ke berapa yang akan meresmikan, tapi saya bertekad presiden ke-8 akan mulai proyek ini,” kata Prabowo.
Ia juga menekankan bahwa proyek tersebut menyangkut hajat hidup puluhan juta warga yang tinggal di Pantura. Menurut Prabowo, pemerintah harus berani memulai pembangunan meskipun pelaksanaannya membutuhkan waktu panjang.
Belajar dari Perlindungan Pesisir Belanda
Prabowo mendorong langkah mitigasi dilakukan tanpa menunggu bencana yang lebih besar. Ia mencontohkan Belanda yang membangun infrastruktur perlindungan jangka panjang untuk menghadapi ancaman wilayah pesisir.
“Giant Sea Wall di Belanda kini melindungi jutaan penduduk Belanda dan menjadi simbol kemampuan teknologi nasional Belanda,” kata Prabowo. Pemerintah memandang proyek Pantura sebagai infrastruktur yang menggabungkan perlindungan warga, keberlanjutan industri, serta pengembangan teknologi dalam satu rencana jangka panjang.






