Gelombang panas ekstrem di Eropa berpotensi mengikis 1% produk domestik bruto Uni Eropa pada musim panas ini. Bank Belanda Triodos memperkirakan kerugian ekonomi dapat mencapai 180 miliar euro atau sekitar US$207,7 miliar.
Ancaman tersebut melampaui persoalan pasokan listrik karena panas turut menekan pertanian, transportasi, harga pangan, dan produktivitas tenaga kerja. Namun, gangguan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir menjadi salah satu tanda paling nyata bahwa infrastruktur energi juga rentan terhadap kekeringan.
Triodos menilai kenaikan suhu dapat membatasi produksi energi dan mendorong naiknya harga listrik. Pada saat yang sama, hasil pertanian dapat turun, biaya transportasi meningkat, dan kemampuan kerja berkurang akibat kondisi panas.
“Dampak utama panas terhadap PDB Uni Eropa adalah penurunan produksi pertanian dan kenaikan harga pangan, terbatasnya produksi energi dan kenaikan harga listrik, gangguan transportasi dan peningkatan biaya transportasi, serta penurunan produktivitas tenaga kerja,” kata Triodos. Nilai kerugian itu hampir setara dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Uni Eropa sepanjang 2026.
Reaktor Bergantung pada Kondisi Air
Pembangkit nuklir membutuhkan air dalam jumlah besar untuk sistem pendinginan, sehingga banyak fasilitas dibangun dekat sungai atau pesisir. Suhu tinggi dan menyusutnya debit air dapat memaksa pembatasan operasi untuk menjaga keselamatan serta memenuhi ketentuan lingkungan.
Investor Daily mencatat dampak tersebut telah muncul di beberapa negara Eropa. Rumania menghentikan reaktor, Hungaria memulihkan sebagian operasi setelah hujan, sedangkan Prancis menghadapi gangguan panas, kekeringan, dan ubur-ubur.
| Lokasi | Peristiwa | Dampak pada Operasi | Ketergantungan Listrik |
|---|---|---|---|
| Rumania, Cernavoda | Permukaan Sungai Danube rendah | Reaktor yang masih beroperasi dihentikan | Dua reaktor memasok sekitar 20% |
| Hungaria, Paks | Curah hujan meningkat | Satu turbin tambahan dapat beroperasi | Hampir separuh kebutuhan nasional |
| Prancis, Gravelines | Ubur-ubur memicu sistem otomatis | Tiga reaktor ditutup | Nuklir memasok sekitar 70% |
Di Rumania, Nuclearelectrica menghentikan reaktor yang masih beroperasi di PLTN Cernavoda karena permukaan Sungai Danube rendah. Pemerintah sebelumnya melakukan pengerukan dan peledakan bawah air untuk membantu menjaga aliran air.
Di Hungaria, curah hujan yang meningkat membawa kondisi lebih baik bagi PLTN Paks. Perdana Menteri Péter Magyar mengatakan dua dari delapan turbin telah kembali beroperasi, termasuk satu turbin tambahan yang bisa dijalankan berkat membaiknya kondisi air.
Prancis Menghadapi Risiko Berlapis
Prancis mengurangi produksi sejumlah reaktor akibat suhu tinggi dan kekeringan. Ketergantungan negara itu pada tenaga nuklir, yang mencakup sekitar 70% pasokan listrik, membuat pembatasan tersebut menjadi isu penting bagi sistem energi nasional.
EDF menutup tiga reaktor di PLTN Gravelines setelah ubur-ubur dalam jumlah besar mengaktifkan sistem pencegahan otomatis. Peristiwa ini menambah daftar hambatan pembangkit nuklir saat cuaca menjadi semakin sulit diprediksi.
Musim panas sebelumnya juga memperlihatkan bahwa gelombang panas, kebakaran hutan, dan kekeringan dapat membatasi operasi fasilitas energi. Pemerintah Eropa kini membahas peningkatan sistem pendinginan dan penyesuaian jadwal pemeliharaan pembangkit untuk memperkuat ketahanannya.
Di Inggris, Perdana Menteri Andy Burnham menggelar rapat komite darurat Cobra untuk membahas panas ekstrem, kebakaran hutan, dan kekeringan. Suhu berpotensi mencapai 38 derajat Celsius, sehingga sektor energi, layanan publik, dan kegiatan ekonomi masuk dalam perhatian.
Kepala Program Internasional Energy and Climate Intelligence Unit Gareth Remond-King meminta penanganan dilakukan lebih awal. Ia memperingatkan situasi dapat memburuk jika penggunaan bahan bakar fosil dan emisi gas rumah kaca terus meningkat.






