Gaikindo menegaskan dukungan penuh terhadap elektrifikasi kendaraan bermotor setelah InfluenceMap menilai advokasi industri untuk kendaraan hybrid dapat memperlambat transisi menuju BEV. Pernyataan itu muncul ketika pengaruh produsen besar dalam pasar otomotif dan kebijakan insentif menjadi perhatian.
Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gaikindo Jongkie D Sugiarto mengatakan dirinya belum mengetahui temuan yang dipublikasikan InfluenceMap. Namun, ia memastikan posisi organisasi terhadap pengembangan kendaraan listrik nasional tidak berubah.
“Saya tidak tahu mengenai temuan tersebut, tapi yang pasti Gaikindo mendukung sepenuhnya elektrifikasi kendaraan bermotor di Indonesia,” kata Jongkie pada Minggu (26/7). Gaikindo menyatakan arah tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 beserta aturan turunannya.
Pasar Besar Menjadi Perhatian
InfluenceMap menyoroti Toyota, Honda, dan Suzuki yang disebut menguasai sekitar 74 persen pangsa pasar kendaraan Indonesia pada 2025. Ketiga perusahaan itu juga disebut memiliki sejumlah posisi kepemimpinan strategis di dalam Gaikindo.
Besarnya posisi pasar dan peran dalam organisasi industri dinilai dapat memberi pengaruh terhadap kebijakan dekarbonisasi transportasi. Sorotan tersebut terutama terkait pilihan pemerintah dalam memberi dukungan kepada teknologi kendaraan selama masa transisi energi.
| Pihak | Peran yang Disorot |
|---|---|
| Toyota | Disebut mengadvokasi dukungan kebijakan berkelanjutan untuk hybrid. |
| Honda | Disebut mengadvokasi dukungan kebijakan berkelanjutan untuk hybrid. |
| Suzuki | Disebut mengadvokasi dukungan kebijakan berkelanjutan untuk hybrid. |
| Gaikindo | Dinilai berpengaruh terhadap arah dekarbonisasi transportasi. |
Kritik atas Insentif Hybrid
Analis Indonesia di InfluenceMap, Muhammad Risky, menilai Toyota, Honda, Suzuki, dan Gaikindo telah mendorong perubahan kebijakan otomotif pada 2023-2026. Menurutnya, dorongan itu berpotensi membuat peralihan Indonesia ke kendaraan listrik berbasis baterai berjalan lebih lambat.
Fokus kritik lembaga tersebut berada pada upaya mempertahankan peran jangka panjang kendaraan hybrid. Teknologi ini masih menggunakan mesin pembakaran internal atau ICE, sehingga berbeda dari BEV yang menjadi jalur utama elektrifikasi kendaraan.
Menurut analisis InfluenceMap yang dikutip CNN Indonesia, pemerintah memperluas insentif pada Desember 2024. Insentif yang sebelumnya ditujukan bagi BEV kemudian mencakup kendaraan hybrid berbasis ICE.
Risky menilai perluasan dukungan bagi kendaraan berbasis ICE dapat memperpanjang ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Ia juga menyebut industri terus mendorong pemberian insentif bagi kendaraan tersebut menjelang pengumuman paket insentif baru pada akhir tahun.
Elektrifikasi dan Ketahanan Energi
“Toyota, Honda, Suzuki dan Gaikindo mengadvokasi dukungan kebijakan berkelanjutan untuk kendaraan hibrida, yang berpotensi menunda transisi BEV di Indonesia,” ujar Risky. Ia memandang isu ini tidak dapat dilepaskan dari ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak.
Menurut Risky, dekarbonisasi transportasi berkaitan langsung dengan ketahanan energi karena penggunaan bahan bakar minyak masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Pemerintah telah menempatkan kemandirian energi sebagai salah satu tujuan nasional.
Di sisi lain, Gaikindo tetap menyatakan dukungannya terhadap elektrifikasi kendaraan di Indonesia. Perbedaan penilaian antara organisasi industri dan InfluenceMap kini berpusat pada sejauh mana kendaraan hybrid perlu terus memperoleh dukungan kebijakan dalam transisi menuju BEV.






