Film The Odyssey karya Christopher Nolan mengembalikan Odysseus ke pusat perhatian, dengan Matt Damon memerankan penakluk Troya tersebut. Di balik citranya sebagai pejuang cerdik yang pulang ke Ithaca, pakar klasik melihat sosok yang jauh dari pahlawan ideal.
Odysseus tampil sebagai karakter yang dapat bertahan melalui kecerdikan, tetapi sering tersandung oleh kesombongan dan pilihannya sendiri. Perdebatan ini membuat kisah pelayaran panjangnya relevan dibaca sebagai cerita antihero, bukan sekadar legenda kemenangan.
Citra Pahlawan Dibentuk Penafsiran
Dalam pemakaian modern, kata “odyssey” identik dengan perjalanan panjang. Arum Park, pakar klasik dari Universitas Arizona, menjelaskan bahwa perjalanan fisik Odysseus justru berakhir pada pertengahan cerita.
Episode petualangan yang paling terkenal hanya mencakup sekitar tiga dari 24 bagian kisah. Fakta ini menunjukkan bahwa pengertian populer mengenai The Odyssey tidak selalu sama dengan cakupan cerita kunonya.
Menurut Kompas.com, filsuf Stoa Romawi seperti Seneca dan Cicero memperkuat gambaran Odysseus sebagai pribadi yang sanggup menghadapi penderitaan dan godaan. Boethius pada abad pertengahan kemudian menggambarkannya semakin dekat dengan figur Kristus.
Penafsiran itu ikut mengangkat Odysseus menjadi panutan yang lebih lurus daripada sosok ambigu dalam kisah awalnya. Joel Christensen justru menilai tokoh tersebut lebih tepat dipahami sebagai antihero, sejenis figur yang dapat dipelajari sekaligus dihindari.
Penilaian Para Pakar Klasik
| Nama | Peran | Pembacaan terhadap Odysseus |
|---|---|---|
| Eleanor Martin | Pengajar mitologi Yunani di Yale | Anggapan bahwa ia orang baik merupakan kesalahpahaman umum. |
| Joel Christensen | Penulis kajian tentang Odysseus | Ia adalah penyintas, bajingan, dan antihero. |
| Sarah Bond | Profesor sejarah Universitas Iowa | Kesombongan membuat dampak tindakannya semakin buruk. |
Eleanor Martin menyatakan bahwa kekeliruan paling umum adalah memandang Odysseus sebagai orang baik. Pernyataan pengajar mitologi Yunani di Yale itu dikutip National Geographic dalam pembahasan tentang karakter sang pahlawan.
Kecerdikan Odysseus memang berkaitan erat dengan gagasan Kuda Troya yang membantu pasukan Yunani merebut Troya. Namun, keunggulan menyusun strategi tidak berarti ia selalu bertindak dengan pertimbangan moral yang sama kuatnya.
Polifemus dan Harga Sebuah Kesombongan
Ketegangan moral itu tampak saat Odysseus bertemu Polifemus, Cyclops putra Poseidon. Polifemus memakan sebagian awaknya dan melanggar aturan keramahtamahan kuno, tetapi Odysseus juga memasuki gua tersebut untuk mengambil makanan.
Odysseus berhasil menyelamatkan diri dengan membutakan Polifemus memakai tombak. Ia lalu kabur bersama para awak, tetapi memilih mengejek Cyclops itu setelah berada di luar jangkauannya.
Sarah Bond menilai ejekan tersebut sebagai masalah besar karena lawan Odysseus adalah anak dewa laut. Kemenangan yang lahir dari siasat kemudian dibayangi konsekuensi dari tindakan pongah sang pemenang.
Narasi Suami dan Ayah yang Tidak Sederhana
Kerumitan Odysseus juga menyentuh kehidupan keluarganya, terutama hubungannya dengan Penelope. Ia menghabiskan tujuh tahun bersama Calypso sebelum dapat meninggalkan pulau nimfa itu.
Kepada Penelope, ia menyampaikan telah menolak tawaran keabadian dan awet muda demi kembali pulang. Christensen menelusuri teks asli dan menemukan bahwa Calypso hanya menawarkan keabadian, bukan keabadian sekaligus awet muda.
Selisih kecil dalam cerita tersebut memperlihatkan bagaimana Odysseus membangun gambaran tentang dirinya sendiri. Pengakuan itu terdengar lebih mulia daripada rincian yang muncul dalam teks kuno.
Bond juga mencatat bahwa Odysseus tidak mengirim kabar kepada keluarganya, meski masyarakat Mesopotamia dan Mesir telah mengenal surat-menyurat jauh sebelum Perang Troya. Pertanyaan mengenai perannya sebagai ayah pun menjadi bagian dari pembacaan kritis terhadap tokoh ini.
Dengan demikian, film baru itu hadir ketika pemahaman tentang Odysseus semakin bergeser dari pahlawan tanpa cela menuju manusia yang kontradiktif. Kekuatan kisahnya terletak pada kecerdikan, kegagalan, dan kemampuan bertahan hidup yang tidak pernah sepenuhnya bersih.






