Rumah dapat menjadi alasan utama seekor anjing tampak enggan bepergian jauh. Di wilayah yang sudah dikenalnya, anjing mengetahui letak sumber makanan, air, tempat berlindung, dan anggota kelompok sosial yang dekat dengannya.
Rasa aman tersebut membuat rumah dan kebun berfungsi sebagai inti wilayah bagi banyak anjing peliharaan. Karena itu, meninggalkan lingkungan rutin tidak selalu menjadi pilihan yang nyaman bagi setiap individu.
Wilayah familier anjing tidak hanya terbatas pada rumah. Halaman tetangga, taman di ujung jalan, atau rute harian juga dapat termasuk area pinggiran yang masih dikenali melalui aroma.
Aroma Membantu Anjing Mengenali Lingkungan
Anjing banyak menggunakan bau untuk membaca informasi dari lingkungan sekitarnya. Kebiasaan mengendus pohon dan tiang lampu berkaitan dengan cara mereka mengenali jejak aroma yang tersisa.
Menggoreskan cakar belakang ke tanah juga dapat menjadi bagian dari penandaan wilayah melalui aroma mereka sendiri. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa lingkungan yang telah dikenali memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari anjing.
Menurut penjelasan yang dimuat Kompas.com, kecenderungan untuk tidak berpetualang terlalu jauh mungkin berkaitan dengan risiko di alam liar. Anjing yang berada jauh dari wilayahnya dapat lebih rentan menghadapi anjing lain atau individu yang lebih kuat.
Kembali setelah lama pergi pun dapat membawa risiko sosial tersendiri. Kelompok sosial yang sebelumnya dikenal mungkin telah berubah, sehingga posisi aman yang pernah dimiliki tidak lagi terasa sama.
Lingkungan Baru Tetap Memiliki Daya Tarik
Meski rumah memberi rasa aman, tempat baru tidak selalu menjadi pengalaman buruk bagi anjing. Bau, ruang, dan hal-hal yang belum dikenal dapat menjadi rangsangan menarik untuk dijelajahi.
Anjing dapat lebih menikmati lingkungan asing saat ditemani manusia atau anjing lain yang dianggap sebagai kelompok sosialnya. Responsnya dapat berbeda apabila mereka harus menghadapi tempat tersebut seorang diri.
Di luar rumah, anjing berpeluang bermain, buang air di lokasi baru, mencari makanan, bertemu anjing lain, dan menandai area. Dalam kondisi tertentu, dorongan melakukan berbagai kegiatan itu dapat membuat anjing memilih untuk berkeliaran.
Pengalaman Mobil Menentukan Respons
Perjalanan dengan Mobil memperlihatkan dengan jelas bahwa respons anjing tidak bisa disamaratakan. Bagi sebagian anjing, kendaraan berarti perjalanan menuju taman atau pantai, tetapi bagi yang lain mobil dapat mengingatkan pada kunjungan dokter hewan.
Pengalaman di klinik dapat membekas kuat, termasuk terhadap aroma ruang tunggu. Sejumlah dokter hewan menggunakan feromon penenang, bahan kimia khusus yang dapat memengaruhi suasana hati, untuk membantu menciptakan kondisi yang lebih tenang.
Anak anjing dan anjing yang belum terbiasa naik kendaraan juga dapat mengalami mabuk mobil. Ketidaknyamanan itu dapat memperkuat kesan buruk terhadap kendaraan dan membuat perjalanan berikutnya terasa lebih sulit.
Namun, mobil juga dapat menawarkan banyak aroma baru serta kesempatan mengunjungi wilayah berbeda. Setelah terbiasa, sejumlah anjing justru tampak sangat gembira saat masuk kendaraan karena mengaitkannya dengan pengalaman yang menyenangkan.
Perilaku Anjing saat Bepergian pada akhirnya dibentuk oleh karakter individu, kelompok sosial, dan pengalaman yang pernah dialami. Ada anjing yang cepat tertarik menjelajah, sedangkan yang lain tetap paling nyaman saat kembali ke wilayah rumahnya.






