Ancaman El Nino tidak dinilai akan langsung mengganggu pasokan beras nasional. Pemerintah mengandalkan 5 juta ton cadangan beras di gudang Perum Bulog hingga produksi dari panen puncak mulai tersedia pada Maret.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan stok tersebut dapat menopang kebutuhan masyarakat sekitar 10 bulan. Pemerintah menilai ada ruang waktu yang cukup sebelum pasokan baru dari dalam negeri memperkuat ketersediaan beras.
Hitungan stok hingga Maret
Amran memperkirakan cadangan pemerintah dapat memenuhi kebutuhan sejak Agustus hingga memasuki Maret. Bulan itu dipandang penting karena masa panen puncak diperkirakan telah berlangsung.
Dengan demikian, stok yang sudah tersimpan tidak berdiri sendiri dalam menjaga pasokan. Pemerintah memperhitungkan adanya tumpang tindih antara cadangan beras pemerintah dan hasil produksi baru.
Persiapan ini dilakukan sebelum dampak fenomena iklim ekstrem meluas. Pemerintah memusatkan perhatian pada kesinambungan produksi dan kecukupan cadangan agar kebutuhan beras masyarakat tetap terpenuhi.
Pasokan tidak hanya berasal dari gudang pemerintah
Selain beras yang tersimpan di Bulog, terdapat kesiapan panen dari sawah yang sudah memasuki siklus tanam. Kementerian Pertanian memperkirakan sumber tersebut dapat menghasilkan 10-11 juta ton beras.
Pemerintah juga memasukkan pasokan sektor hotel, restoran, dan kafe atau horeka dalam proyeksi ketersediaan. Volume pasokan sektor tersebut disebut mencapai 12 juta ton.
| Komponen ketersediaan | Volume | Keterangan |
|---|---|---|
| Beras di gudang Bulog | 5 juta ton | Diproyeksikan cukup sekitar 10 bulan |
| Kesiapan panen sawah | 10-11 juta ton | Sawah telah menjalani siklus tanam |
| Pasokan horeka | 12 juta ton | Hotel, restoran, dan kafe |
Rangkaian pasokan tersebut menjadi dasar pemerintah menyatakan stok pangan tetap aman. Proyeksi itu juga digunakan untuk menjawab kekhawatiran bahwa El Nino dapat segera menyebabkan kekurangan beras.
Gagal panen kecil tidak dinilai mengubah kondisi nasional
Amran mengakui kekeringan terjadi di sejumlah daerah dan dapat memunculkan gagal panen pada skala kecil. Namun, ia menilai gangguan di beberapa lokasi tidak akan mengubah kondisi stok nasional.
“Mungkin ada kecil-kecil (gagal panen), tapi itu tidak akan berpengaruh pada stok nasional,” kata Amran di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (28/7/2026). Pemerintah tetap menjalankan langkah perlindungan bagi lahan pertanian yang menghadapi keterbatasan air.
Pompanisasi dan pengelolaan irigasi menjadi instrumen yang diandalkan untuk menjaga kebutuhan air pertanian. Langkah itu disebut telah dijalankan sejak lama sebagai bagian dari persiapan menghadapi kekeringan.
Amran juga menyinggung pengalaman Indonesia menghadapi El Nino pada 2023 dan 2024. Ia menyebut El Nino 2016 sebagai periode yang paling keras, sementara pemerintah kini kembali menyiapkan stok dan produksi untuk meredam risiko serupa.
Menurut pemerintah, kekeringan lokal tidak serta-merta menunjukkan terjadinya kekurangan beras nasional. Ketersediaan dari Bulog, potensi panen sawah, dan pasokan horeka menjadi penyangga yang terus diperhitungkan hingga masa panen puncak tiba.






