Scott Winters menuduh ChatGPT mengabaikan gejala yang akhirnya berujung pada diagnosis emboli paru. Pria asal Florida itu menggugat OpenAI setelah dirinya dilarikan ke ICU saat kondisi kesehatannya memburuk.
Dalam perkara tersebut, Winters menilai chatbot tidak hanya meremehkan keluhannya, tetapi juga memengaruhi keputusannya untuk tidak segera mencari bantuan medis. Gugatan ini masih berupa klaim dari pihak Winters terhadap perusahaan kecerdasan buatan tersebut.
Dorongan Keluarga Disebut Tidak Diikuti
Menurut Winters, keluarga dan teman sempat menyarankan agar ia mendapatkan pertolongan medis. Namun, ia mengklaim ChatGPT menyarankannya untuk mengabaikan kekhawatiran dari orang-orang terdekatnya.
Ia juga menyebut chatbot memberikan panduan bernuansa spiritual yang disesuaikan dengan latar belakangnya sebagai mantan pendeta. Bagian respons tersebut turut tercantum dalam tuduhan yang diajukannya bersama Tech Justice Law.
Winters menggugat OpenAI serta CEO Sam Altman dengan tuduhan kelalaian dan praktik kedokteran tanpa izin. Ia meminta ganti rugi sekaligus perlindungan yang lebih kuat agar chatbot tidak dipakai sebagai pengganti nasihat medis profesional.
Dari Pusing hingga Nyeri Selangkangan
Winters mulai menggunakan ChatGPT-4o pada 2024 untuk membahas pusing yang berulang. Menurut laporan People yang dikutip health.kompas.com, ia menilai chatbot menyarankan dirinya beristirahat di kursi malas atau recliner alih-alih menempatkan keluhan itu sebagai masalah serius.
Ia kemudian menghabiskan waktu berminggu-minggu dengan lebih banyak duduk dan beristirahat. Winters menyatakan dokter yang merawatnya menduga penyumbatan yang dialami berkaitan dengan kebiasaan duduk terlalu lama tersebut.
| Tahap | Peristiwa |
|---|---|
| Keluhan awal pada 2024 | Winters membicarakan pusing berulang dengan ChatGPT-4o. |
| 13 Juli 2025 | Ia melaporkan nyeri di area selangkangan kepada chatbot. |
| Setelahnya | Winters dibawa ke ICU dan mendapat diagnosis emboli paru. |
Pada 13 Juli 2025, ia kembali menyampaikan keluhan berupa rasa sakit di area selangkangan. Berdasarkan gugatan, ChatGPT kembali menyatakan keluhan tersebut kemungkinan bukan sesuatu yang serius.
Tidak lama sesudahnya, Winters dilarikan ke ICU dan dokter mendiagnosisnya mengalami emboli paru. Kondisi ini terjadi ketika gumpalan darah menyumbat aliran darah menuju paru-paru sehingga berpotensi mengancam nyawa.
Pernyataan OpenAI
OpenAI menegaskan bahwa ChatGPT tidak dibuat untuk menggantikan dokter. Perusahaan menyatakan chatbot tidak boleh digunakan sebagai pengganti perawatan medis, diagnosis, atau pengobatan.
Perusahaan menyebut kecerdasan buatan dapat dipakai untuk membantu pengguna mencari informasi kesehatan, menyusun pertanyaan, serta mempersiapkan percakapan dengan tenaga medis. Namun, OpenAI menilai masalah kesehatan yang kompleks tidak dapat dijadikan dasar keputusan hanya dari respons chatbot.
Winters menyatakan ia mengalami gejala serius selama enam pekan yang menurutnya keliru dikaitkan dengan kondisi lain oleh ChatGPT. Ia menduga pusing yang dialami sebelumnya mungkin merupakan tanda dari emboli paru berukuran lebih kecil.
Ia mengaku membutuhkan pemulihan fisik dan psikologis secara intensif selama bertahun-tahun. Gugatan itu juga menyebut Winters kehilangan pekerjaan, karier, pelayanan keagamaan yang dibangun, hingga rumahnya.






