Motor Listrik Nasional atau Molinas dinilai memiliki peluang lebih besar di wilayah yang menghadapi tantangan distribusi bahan bakar minyak. Perdesaan, perbatasan, pulau kecil, dan daerah tertinggal, terdepan, serta terluar menjadi sasaran yang dipandang lebih sesuai dibandingkan kota besar.
Di daerah tersebut, kendaraan listrik berpotensi membantu efisiensi biaya bahan bakar dan logistik bagi warga maupun kegiatan operasional. Kebutuhan mobilitas lokal membuat manfaat motor listrik dapat lebih terasa tanpa menambah tekanan besar pada lalu lintas padat.
Agats Menjadi Gambaran Pemanfaatan Kendaraan Listrik
Kota Agats di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, disebut sebagai contoh penggunaan kendaraan bermotor listrik di tengah kendala distribusi bahan bakar minyak. Wilayah itu mulai beralih menggunakan kendaraan listrik sejak 2007.
Pengalaman Agats menunjukkan bahwa kebutuhan kendaraan listrik dapat muncul dari persoalan akses energi dan logistik. Kondisi ini berbeda dengan kota-kota besar yang telah menghadapi jumlah kendaraan pribadi sangat tinggi.
| Wilayah | Potensi Penggunaan Motor Listrik |
|---|---|
| Perdesaan dan perbatasan | Efisiensi biaya bahan bakar serta logistik |
| Pulau kecil dan daerah 3T | Menjawab tantangan distribusi bahan bakar |
| Kawasan mineral di luar Jawa | Mendukung kebutuhan mobilitas operasional |
| Agats, Kabupaten Asmat | Telah memakai kendaraan listrik sejak 2007 |
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, menilai kawasan mineral di luar Jawa juga berpotensi menjadi pasar. Morowali, Konawe, Halmahera, Luwu Timur, sejumlah wilayah di Kalimantan, hingga Papua disebut memiliki peluang tersebut.
Segmentasi pasar menjadi penting karena alasan penggunaan motor listrik tidak sama di setiap daerah. Wilayah dengan hambatan pasokan bahan bakar dapat memperoleh nilai efisiensi yang berbeda dari kawasan metropolitan.
Kota Besar Menghadapi Risiko Tambahan Kendaraan
Di perkotaan, persoalan utama bukan hanya asal tenaga kendaraan, tetapi jumlah kendaraan yang menggunakan jalan. Djoko memperkirakan 75 persen hingga 80 persen kendaraan di wilayah perkotaan masih didominasi sepeda motor.
Dominasi tersebut membuat kebijakan insentif motor listrik perlu disusun secara hati-hati. Potongan harga dapat meningkatkan kepemilikan, tetapi manfaatnya berbeda apabila kendaraan baru hanya ditambahkan ke garasi pemiliknya.
“Jika masyarakat membeli motor listrik hanya sebagai kendaraan tambahan, bukan menggantikan kendaraan lama atau beralih ke angkutan umum, ruang jalan akan semakin padat,” kata Djoko kepada Kompas.com. Motor listrik dapat mengalihkan sumber emisi dari bahan bakar fosil ke listrik, tetapi tidak serta-merta mengurangi kendaraan di jalan.
| Pola Pemanfaatan | Dampak yang Diharapkan | Risiko |
|---|---|---|
| Menggantikan motor lama | Peralihan dari bahan bakar fosil | Manfaat terbatas bila motor lama tetap digunakan |
| Menjadi kendaraan tambahan | Kepemilikan motor listrik meningkat | Ruang jalan semakin padat |
| Beralih ke angkutan umum | Penggunaan kendaraan pribadi berkurang | Sulit tercapai tanpa layanan massal yang kuat |
Elektrifikasi Perlu Berjalan dengan Transportasi Massal
Djoko menekankan penguatan transportasi umum massal tetap menjadi kunci untuk mengurai kemacetan. Elektrifikasi armada angkutan umum dipandang penting agar pengurangan emisi juga diikuti penurunan penggunaan kendaraan pribadi.
Dengan pendekatan tersebut, transisi energi tidak hanya berarti perpindahan dari bensin ke listrik. Kebijakan transportasi dapat sekaligus diarahkan untuk menekan kebutuhan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi di kawasan padat.
Industri Nasional Mendapat Peluang
Molinas tidak hanya terkait perubahan pola mobilitas, tetapi juga peluang bagi industri otomotif nasional. Program ini dapat mendorong Indonesia menjadi produsen kendaraan listrik, bukan hanya pasar di tengah dominasi produk impor.
Djoko menilai insentif pemerintah masih diperlukan pada tahap awal pengembangan. Perlindungan yang terarah dapat memberi kesempatan bagi industri nasional membangun teknologi dan rantai pasok sebelum mampu bersaing secara mandiri.
Penentuan sasaran pasar akan memengaruhi hasil program Molinas. Pengembangan di wilayah dengan kebutuhan logistik kuat, penggantian motor lama, serta penguatan angkutan umum menjadi unsur penting agar elektrifikasi memberi manfaat yang lebih luas.






