Biaya Hidup Menggeser Lansia ke Pinggiran saat Jakarta Memikat Pekerja Muda

Biaya hidup yang mahal mendorong sebagian warga lanjut usia meninggalkan Jakarta menuju wilayah penyangga. Di saat bersamaan, ibu kota tetap menarik pekerja muda dari berbagai daerah karena daya tarik ekonominya.

Pergerakan dua kelompok usia itu menciptakan pola demografi yang khas di Jakarta. Kota inti tetap menjadi tempat bekerja bagi penduduk muda, sementara kawasan sekitar semakin penting sebagai pilihan hunian bagi warga yang keluar.

Wakil Kepala Badan Pusat Statistik, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, menyebut penduduk lansia cenderung berpindah ke daerah penyangga. Sementara itu, urbanisasi memasok tenaga kerja usia produktif ke Jakarta meski angka kelahiran rendah.

Pola Perpindahan Tidak Hanya Terjadi di Jakarta

Pendalaman Long Form Sensus Penduduk 2020 pada 2022 mencatat kecenderungan perpindahan dari pusat kota ke kawasan penyangga. Kajian mengenai migrasi terkini tersebut menemukan pola serupa di beberapa kota besar Indonesia.

Kota intiWilayah tujuanArah migrasi
JakartaDepokKe wilayah penyangga
MakassarGowaKe wilayah penyangga
SurabayaSidoarjoKe wilayah penyangga
MedanDeli SerdangKe wilayah penyangga

Jakarta memperlihatkan arus perpindahan ke Depok, sementara Makassar terhubung dengan Gowa dalam pola yang sama. Surabaya dan Medan juga mencatat kecenderungan perpindahan penduduk menuju Sidoarjo serta Deli Serdang.

Pola tersebut memperlihatkan bahwa pusat ekonomi dan lokasi tempat tinggal semakin terpisah dalam kawasan perkotaan besar. Penduduk dapat tetap bergantung pada kota inti untuk bekerja, tetapi menetap di wilayah di luar batas administrasinya.

Jakarta Tetap Menjadi Magnet Pekerja

Sonny mengatakan Jakarta adalah magnet urbanisasi, tetapi juga merupakan kota yang paling menua di Indonesia. Kondisi itu terjadi karena rendahnya kelahiran diimbangi oleh masuknya penduduk muda dari daerah lain.

“Jadi meskipun Jakarta itu magnet urbanisasi, tapi dia adalah kota yang paling menua di Indonesia,” ujar Sonny dalam program Naratama Kompas.com. Pernyataan itu menggambarkan peran mobilitas penduduk dalam menjaga kehadiran kelompok usia produktif di ibu kota.

Kelompok produktif lebih banyak masuk ke pusat ekonomi untuk mencari pekerjaan. Sebaliknya, kelompok nonproduktif lebih banyak memilih tinggal di kawasan sekitar Jakarta.

IndikatorPeriodeNilai
Total fertility rate IndonesiaSUPAS 20252,13 anak per perempuan
Total fertility rate IndonesiaAwal 1970-anSekitar 5,6 anak per perempuan

Penuaan penduduk Jakarta juga berkaitan dengan penurunan angka kelahiran yang terjadi lebih luas di Pulau Jawa. SUPAS 2025 mencatat total fertility rate Indonesia sebesar 2,13 anak per perempuan usia 15 hingga 49 tahun.

Angka itu jauh lebih rendah daripada sekitar 5,6 anak per perempuan pada awal 1970-an. Penurunan kelahiran mendorong struktur umur penduduk menjadi lebih tua, termasuk di Jakarta.

Namun, arus pekerja muda membuat perubahan demografi Jakarta tidak langsung mengurangi keberadaan usia produktif. Kota inti tetap memikat pencari kerja, sedangkan wilayah penyangga mengambil peran lebih besar sebagai tempat tinggal bagi penduduk yang berpindah dari Jakarta.

Baca Juga